Alih Komoditas, Luas Perkebunan Kopi Dompu Menyusut Drastis

  • 10 Jul 2026 12:49 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Luas perkebunan kopi di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, terus mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan komoditas yang dipilih petani menjadi jagung, durian, pisang, alpukat, hingga tembakau menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya areal tanaman kopi di lereng Gunung Tambora.

Berdasarkan data yang dihimpun, luas perkebunan kopi di Kabupaten Dompu yang sebelumnya mencapai 1.517 hektare, kini tersisa sekitar 533,91 hektare.

Seluruh produksi kopi di daerah tersebut saat ini hanya mengandalkan perkebunan rakyat yang berada di kawasan lereng Gunung Tambora.

Syaiful, petani kopi di Dusun Pancasila, Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, mengatakan perubahan iklim yang dipicu berkurangnya tutupan hutan ikut memengaruhi produktivitas tanaman kopi.

Menurutnya, kopi kini sudah tidak lagi cocok ditanam di dataran yang lebih rendah. Tanaman kopi hanya mampu tumbuh optimal pada lahan peninggalan zaman Belanda yang berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara Dusun Pancasila, Desa Tambora, hanya berada pada kisaran 500 mdpl.

"Hutan juga semakin berkurang akibat pembukaan lahan, sehingga petani bergeser semakin jauh ke dalam kawasan yang lebih tinggi," ujarnya, Jum’at, 10 JUli 2026.

Ia menjelaskan, perpindahan lahan perkebunan tersebut telah berlangsung lima tahun terakhir. Banyak petani yang berhasil meningkatkan taraf hidup dari usaha kopi, bahkan mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi.

Selain dikenal sebagai sentra kopi, kawasan Pancasila kini berkembang menjadi desa agro wisata yang tidak hanya mengandalkan kopi sebagai daya tarik, tetapi juga berbagai komoditas hortikultura lainnya.

Syaiful menambahkan, lahan di sekitar permukiman kini semakin banyak beralih fungsi menjadi kawasan hunian akibat pertumbuhan penduduk. Kondisi tersebut membuat petani memilih membuka kebun pada kawasan yang lebih tinggi.

"Sekarang yang lebih subur justru di ketinggian 600 sampai 700 mdpl, bahkan ada yang mencapai 1.000 meter di atas permukaan laut," katanya.

Ia mengungkapkan, selain kopi robusta, petani kini mulai mencoba kembali membudidayakan kopi arabika karena dinilai lebih sesuai dengan kondisi dataran tinggi di lereng Gunung Tambora.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi petani tidak hanya berasal dari perubahan iklim. Menjelang masa panen, pencurian buah kopi dan gangguan satwa liar, terutama monyet, masih menjadi persoalan utama.

Akibatnya, petani terpaksa memanen kopi dengan sistem lama, yakni memetik buah dalam kondisi bercampur antara yang sudah merah, setengah matang, maupun masih hijau untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Di sisi lain, harga kopi dinilai masih cukup baik. Setelah sempat mencapai Rp80 ribu per kilogram pada tahun lalu, saat ini harga kopi di tingkat petani relatif stabil di kisaran Rp55 ribu per kilogram.

Meski harga masih menguntungkan, penyusutan lahan dan perubahan kondisi iklim menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan kopi Dompu. Apabila tidak diimbangi dengan upaya konservasi hutan dan pengembangan budidaya di kawasan yang sesuai, produksi kopi di lereng Gunung Tambora dikhawatirkan akan terus mengalami penurunan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....