Dari Lembar ke Balai Kartini: Kisah Tiga Karya Lombok menuju Panggung Nasional

  • 04 Mei 2026 12:50 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Angin laut pagi di Pelabuhan Lembar, Nusa Tenggara Barat, membawa serta harapan. Di antara deru kapal yang bersiap berlayar menuju Pelabuhan Tanjung Priok, tiga warisan budaya Lombok ikut berangkat, bukan sekadar barang, melainkan cerita panjang tentang tradisi, ketekunan, dan inovasi. Tenun Pringgasela, tas ketak, dan mutiara Lombok kini bersiap mencuri perhatian dalam ajang “Persit Bisa 2” di Balai Kartini, Jakarta, 7–9 Mei 2026.

Perjalanan selama dua hari dua malam itu seakan menjadi simbol perjalanan panjang para perajin. Dari tangan-tangan terampil di desa hingga panggung nasional, setiap helai tenun dan anyaman ketak menyimpan jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu.

Di balik keindahan Tenun Pringgasela, terselip kisah interaksi budaya masa lalu. Motif dan coraknya merekam pertemuan masyarakat Lombok dengan Makassar dan Bugis, melahirkan ragam estetika yang unik tanpa kehilangan identitas lokal. Setiap benang ditenun bukan hanya untuk menjadi kain, tetapi untuk merawat ingatan kolektif.

Berbeda lagi dengan tas ketak. Jika dulu ia hadir sebagai produk tradisional yang sederhana, kini tas ketak tampil dengan wajah baru—lebih modern, chic, dan berani. Sentuhan desain kontemporer berpadu dengan anyaman alami, menghadirkan produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga fashionable. Kilau lembut mutiara Mabe yang disematkan menjadi aksen istimewa, menjadikannya karya yang tak sekadar cantik, tetapi juga bernilai seni tinggi.

Sementara itu, mutiara Lombok datang dengan pesona yang tak terbantahkan. Dalam berbagai bentuk—kalung, gelang, cincin, anting, hingga bros—mutiara ini memadukan keanggunan klasik dengan sentuhan modern. Di antara yang paling mencuri perhatian adalah mutiara Mabe, dengan bentuk setengah lingkaran yang unik dan kilau lembut yang elegan, menjadikannya simbol kemewahan yang lahir dari laut Lombok.

Menjelang pameran, kesibukan terasa di balik layar. Para pelaku UMKM yang tergabung dalam Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 162 PD IX/Udayana menyiapkan stok terbaik mereka. Bagi mereka, ini bukan sekadar pameran, tetapi peluang untuk memperkenalkan karya lokal ke pasar yang lebih luas.

“Persit Bisa 2” bukan hanya ajang promosi, melainkan ruang pembuktian bahwa produk lokal mampu bersaing di tingkat nasional. Harapannya, langkah ini menjadi pintu pembuka bagi UMKM Lombok untuk terus berkembang, menembus batas geografis, dan menempatkan diri di hati pasar Indonesia.

Di Balai Kartini nanti, pengunjung tak hanya melihat produk, tetapi juga merasakan cerita. Cerita tentang budaya yang dirawat, kreativitas yang tumbuh, dan semangat yang tak pernah surut.

Dan ketika pengunjung berhenti di Booth 17 untuk Tenun Pringgasela, atau di Booth 64 untuk tas ketak dan mutiara Lombok, mereka sesungguhnya sedang menyentuh sepotong Lombok—yang dibawa melintasi laut, untuk bersinar di ibu kota. (RRI/Joe)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....