Belajar Pasar dari Nol: Perjalanan Inspiratif H. Nasri

  • 09 Feb 2026 14:34 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID - Lombok Timur: H. Nasri, warga Dusun Mangkling, Desa Pringga Jurang, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, membuktikan bahwa keberhasilan di dunia usaha lahir dari proses panjang dan kesungguhan memahami medan. Perjalanan bisnisnya dimulai sejak tahun 2004, ketika ia mengawali peran sebagai penyerap hasil pertanian, khususnya sayuran, dari petani lokal untuk didistribusikan ke pasar-pasar sayur.

Seiring waktu, H. Nasri diajak salah satu rekannya untuk terjun langsung ke pasar. Langkah ini membuka peluang baru. Karena selain menyerap sayur dari petani, ia juga bisa mengambil komoditas dari pasar untuk kemudian disalurkan kembali dari rumah. Namun realitas pasar ternyata jauh dari bayangan awal.

“Masuk ke dunia pasar itu tidak bisa hanya bermodal keberanian. Kita harus benar-benar memahami situasi dan sistem yang berjalan di dalamnya. Harga bisa berubah setiap saat, cara jual beli tidak selalu memberi kepastian, dan kita berhadapan dengan banyak karakter orang,” ungkap H. Nasri, Senin 9 Februari 20269.

Alih-alih mundur, ia memilih pendekatan yang tidak lazim namun penuh perhitungan. Selama berbulan-bulan, H. Nasri datang ke pasar tanpa membawa barang dan tanpa melakukan transaksi. Ia hanya mengamati dan menganalisis dinamika yang terjadi.

“Saya memilih datang ke pasar tanpa membawa barang dan tanpa membeli apa pun. Saya hanya mengamati, menganalisis, dan belajar membaca pergerakan pasar. Proses itu saya jalani berbulan-bulan sampai benar-benar paham,” katanya.

Baginya, pasar bukan hanya tempat jual beli, tetapi ruang belajar yang keras. Tantangan fisik dan mental menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses tersebut.

“Di pasar kita harus siap dengan semua kondisi. Panas, hujan, pasar sepi atau ramai, harga naik dan turun, semuanya pasti terjadi. Kalau mental tidak siap, kita akan mudah menyerah,” ujarnya.

Pemahaman mendalam itulah yang kemudian membentuk reputasi dan kepercayaan terhadap dirinya. Ia pun dipercaya menjadi pemasok berbagai kebutuhan, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Pada akhirnya, kepercayaan itu yang paling penting. Semua orang sebenarnya bisa melakukan hal yang sama, tapi membangun kepercayaan tidak bisa instan. Itu perlu waktu, konsistensi, dan kejujuran,” jelasnya.

Keberhasilan H. Nasri tidak hanya berdampak pada dirinya, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat sekitar. Ia turut menyerap produk UMKM, seperti roti dan produk olahan lainnya, sehingga perputaran ekonomi lokal semakin terasa.

Ia juga menyoroti besarnya dampak MBG terhadap ekonomi masyarakat. 

“Program MBG sangat berpengaruh pada perputaran hasil produksi masyarakat. Tidak hanya pertanian, tetapi juga peternakan, telur, hingga produk olahan seperti abon dan roti. Masih banyak peluang yang bisa diambil masyarakat, misalnya dengan menanam sayuran atau mengembangkan usaha olahan agar bisa ikut berpartisipasi,” pungkasnya.

Kisah H. Nasri menjadi gambaran bahwa kesuksesan bukan soal kecepatan, melainkan kesabaran membaca peluang, kesiapan menghadapi tantangan, dan keteguhan membangun kepercayaan dari proses yang panjang.

Rekomendasi Berita