Transaksi QRIS Cross Border Wisatawan Tiongkok di NTB Tembus Rp6,5 Miliar
- 02 Sep 2026 13:24 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram — Transaksi pembayaran menggunakan QRIS Cross Border oleh wisatawan mancanegara di Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menunjukkan peningkatan. Perluasan kerja sama QRIS antarnegara dinilai membuka peluang lebih besar bagi sektor pariwisata dan pelaku usaha di daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB mengatakan, QRIS Cross Border saat ini telah dapat digunakan untuk transaksi dengan enam negara, yakni Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.
“Sekarang QRIS antarnegara sudah bisa dilaksanakan dengan enam negara. Thailand, Singapura, Jepang, dan yang terbaru Korea Selatan serta China,” ujarnya dalam acara Bincang Bareng Media bersama Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis NTB di Mataram, Rabu 2 September 2026.
Menurutnya, perluasan kerja sama tersebut turut mendorong peningkatan volume transaksi QRIS Cross Border di NTB. Sebelumnya, transaksi banyak berasal dari wisatawan asal Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Malaysia masih menjadi salah satu pasar utama wisatawan mancanegara di NTB. Hingga Juli 2026, wisatawan asal Malaysia menyumbang sekitar 34,83 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB.
Sementara itu, wisatawan asal Tiongkok menyumbang sekitar 4,02 persen. Meski proporsinya lebih kecil dibandingkan Malaysia, nilai transaksi QRIS Cross Border wisatawan Tiongkok menunjukkan potensi yang cukup besar.
“Wisatawan dari Tiongkok, sekitar empat persen dari total wisatawan mancanegara yang masuk ke NTB, pembelanjaannya di NTB sudah mencapai Rp6,5 miliar,” katanya.
Nilai tersebut disebut telah mendekati transaksi QRIS Cross Border wisatawan Malaysia pada tahun sebelumnya. Hingga Juli 2026, transaksi QRIS Cross Border wisatawan Malaysia di NTB tercatat sekitar Rp12,6 juta, meningkat dibandingkan capaian 2025 yang berada di kisaran Rp7,9 juta.
BI NTB melihat kemudahan sistem pembayaran digital menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong wisatawan meningkatkan belanja selama berada di NTB.
Berdasarkan pemantauan BI, transaksi QRIS Cross Border wisatawan terutama digunakan untuk kebutuhan transportasi, komunikasi, serta makanan dan minuman.
“Pariwisata sebagian besar menggunakan QRIS Cross Border untuk transportasi, komunikasi, serta makanan dan minuman,” ujarnya.
BI NTB juga terus memperluas edukasi dan promosi penggunaan QRIS Cross Border, termasuk melalui pemasangan materi edukasi di bandara dan sejumlah lokasi strategis.
Edukasi juga dilakukan dengan memberikan pengalaman langsung kepada wisatawan, termasuk wisatawan asal Malaysia yang baru tiba di NTB, untuk mencoba melakukan transaksi menggunakan QRIS Cross Border.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman wisatawan asing terhadap sistem pembayaran digital Indonesia, tetapi juga mendorong pelaku usaha lokal agar semakin siap menerima transaksi dari wisatawan mancanegara.
Di sisi lain, BI terus memperkuat implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI), termasuk melalui inovasi sistem pembayaran domestik dan pengembangan ekosistem QRIS.
BI juga memperluas kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS sebesar nol persen bagi merchant usaha mikro untuk transaksi hingga Rp500 ribu, serta menerapkan MDR 0 persen untuk seluruh kategori merchant dengan nilai transaksi hingga Rp100 ribu.
Kebijakan tersebut diharapkan semakin mendorong masyarakat dan pelaku usaha menggunakan transaksi pembayaran nontunai.
“Ini menjadi dorongan kepada masyarakat untuk melaksanakan transaksi nontunai melalui QRIS, tidak hanya masyarakat, tetapi juga merchant agar semakin meningkat,” katanya.
Penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan digital juga akan dilanjutkan melalui Festival Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) yang dijadwalkan berlangsung pada 24-26 September 2026 di Jakarta. Kegiatan tersebut akan melibatkan kolaborasi dengan industri fintech dan berbagai pemangku kepentingan ekonomi digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....