Plastik Tak Lagi Gratis? Pedagang di Pasar Kebon Roek Mataram Mulai "Irit" Plastik

  • 14 Apr 2026 11:13 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Harga plastik naik drastis! Pedagang di Pasar Kebon Roek Mataram kini mulai batasi penggunaan kantong belanjaan. Simak dampak konflik global terhadap dompet pedagang kecil di NTB

RRI.CO.ID, Mataram - Melambungnya harga berbagai jenis produk plastik di pasar global mulai berdampak nyata hingga ke tingkat pedagang kecil di Kota Mataram. Pantauan di lapangan menunjukkan, para pelaku usaha mikro kini harus memutar otak guna menyiasati biaya operasional yang membengkak akibat mahalnya harga kantong plastik dan wadah kemasan.

Kenaikan yang terjadi sejak awal kuartal pertama tahun 2026 ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik tersebut mengganggu stabilitas pasar energi, terutama pasokan nafta yang merupakan komponen krusial dalam produksi biji plastik seperti Polyethylene (PE) dan Polypropylene (PP).

Di Indonesia, ketergantungan pada impor bahan baku membuat harga pasar lokal sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs dolar. Berdasarkan laporan detikFinance, nilai impor bahan baku plastik nasional bahkan mencapai belasan triliun rupiah per bulan untuk menutupi keterbatasan produksi hulu domestik.

Keluhan dari Pasar Tradisional

Dampak "badai" harga plastik ini sangat terasa di Pasar Kebon Roek, Ampenan. Harga plastik kemasan dan wadah makanan dilaporkan meroket hingga 20-30 persen dibandingkan periode awal tahun. Kondisi ini memaksa para pedagang untuk lebih perhitungan dalam memberikan layanan kepada pembeli.

Sapiah, seorang pedagang bumbu dapur di Pasar Kebon Roek, mengeluhkan kondisi yang tidak biasa ini. Selama puluhan tahun berjualan, ia mengaku baru kali ini harus benar-benar menghemat penggunaan kantong plastik.

"Tumben sekali harga plastik naik setinggi ini. Selama ini saya tidak pernah mikir kalau mau pakai plastik bungkus belanjaan pembeli, tapi sekarang saya hemat-hemat," terang Sapiah saat diwawancarai RRI Mataram, Selasa 14 April 2026.

Strategi "irit" ini dilakukan Sapiah agar ia tidak perlu menaikkan harga dagangannya, yang dikhawatirkan justru akan membuat pelanggan lari. Jika biasanya ia memberikan kantong plastik berlapis untuk belanjaan yang berat, kini ia hanya menggunakan satu lapis plastik atau meminta pembeli memasukkan beberapa barang ke dalam satu wadah besar.

Momentum Perubahan Gaya Hidup

Di sisi lain, melambungnya harga plastik ini dipandang oleh para aktivis lingkungan di Mataram sebagai "pedang bermata dua". Meski memberatkan pedagang kecil, kondisi ini dianggap sebagai momentum emas untuk mempercepat transisi masyarakat ke gaya hidup ramah lingkungan.

Meningkatnya nilai ekonomi plastik diharapkan dapat mendorong efektivitas sistem daur ulang di tingkat rumah tangga. Selain itu, penggunaan material alternatif seperti tas belanja kain atau wadah berbahan serat singkong dan bambu kini mulai kembali dilirik sebagai solusi hemat jangka panjang.

Hingga berita ini diturunkan, harga plastik di tingkat distributor Mataram diperkirakan masih akan bergejolak mengikuti indeks harga minyak mentah dunia dan ongkos logistik global yang belum stabil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....