BI NTB Catat Net Inflow Uang Kartal Rp640 Miliar pada Triwulan I 2026
- 08 Mei 2026 15:33 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat net inflow uang kartal sebesar Rp640 miliar pada triwulan I 2026. Kondisi ini berbeda dari pola yang biasanya terjadi pada awal tahun, di mana NTB cenderung mengalami outflow atau arus keluar uang kartal.
Kepala Perwakilan BI NTB, Hario K. Pamungkas menjelaskan, kondisi net inflow tersebut dipengaruhi oleh tingginya arus balik uang dari masyarakat ke perbankan usai momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri. Penjelasan itu disampaikannya pada kegiatan bincang bareng media (BBM), yang tergabung pada Forum Wartawan Ekonomi (FWE) NTB, di Mataram, Jum'at 8 Mei 2026.
“Biasanya di triwulan I terjadi outflow, tetapi kali ini kami mengalami net inflow sebesar Rp640 miliar. Hal ini disebabkan arus balik uang kartal dari masyarakat setelah HBKN Ramadan, di mana uang yang sebelumnya beredar untuk belanja masyarakat kembali disimpan ke bank, lalu disetorkan kembali ke Bank Indonesia,” ujar Hario
BI NTB mencatat inflow uang kartal mencapai sekitar Rp3,65 triliun, sementara outflow tercatat sekitar Rp3,01 triliun selama periode tersebut.
Selain perkembangan uang kartal, BI NTB juga menyoroti temuan uang palsu yang hingga April 2026 mencapai 183 lembar. Temuan tersebut didominasi pecahan Rp100 ribu sebanyak 111 lembar, disusul pecahan Rp50 ribu sebanyak 71 lembar, serta pecahan Rp20 ribu sebanyak satu lembar.
Hario mengatakan, seluruh temuan tersebut merupakan laporan dari perbankan yang menemukan uang diragukan keasliannya saat transaksi berlangsung.
Menurutnya, kasus penggunaan uang palsu maupun uang mainan yang sempat ditemukan di sejumlah pasar menjadi perhatian serius Bank Indonesia. Karena itu, pihaknya terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait ciri-ciri keaslian rupiah.
“Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai ciri-ciri keaslian rupiah. Yang kami edukasi adalah ciri keaslian rupiah, bukan ciri-ciri uang palsu,” katanya.
BI NTB juga memperkuat sinergi dengan perbankan dalam proses klarifikasi keaslian uang rupiah. Jika terdapat uang yang diragukan keasliannya, perbankan akan menyampaikan kepada Bank Indonesia untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Selain melalui perbankan, edukasi juga dilakukan ke sekolah-sekolah, asosiasi pedagang, masyarakat umum, hingga aparat penegak hukum. BI NTB juga menggandeng media massa untuk memperluas literasi masyarakat terkait keaslian uang rupiah.
“Kami berharap dukungan media untuk ikut mengedukasi masyarakat. Semakin masyarakat memahami ciri keaslian rupiah, maka ruang gerak pelaku penyebaran uang palsu akan semakin sempit,” ujar Hario.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....