Frugal Living, Seni Mengatur Skala Prioritas di tengah Ketidakpastian

  • 26 Mar 2026 20:48 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Simak pendapat ahli Morgan Housel dan perspektif masyarakat mengenai frugal living sebagai solusi cerdas menghadapi ketidakpastian ekonomi 2026

RRI.CO.ID, Mataram - Kondisi ekonomi global yang fluktuatif, kenaikan harga bahan pokok, hingga fenomena "mantab" (makan tabungan) membuat banyak orang mulai melirik gaya hidup frugal living. Namun, masih banyak salah kaprah yang menyamakan frugal living dengan sikap pelit atau kikir. Padahal, keduanya memiliki filosofi yang bertolak belakang.

Frugal living adalah kesadaran penuh dalam mengalokasikan sumber daya (uang dan waktu) untuk hal-hal yang benar-benar memberikan nilai dalam hidup. Ini bukan tentang menderita karena menahan lapar, melainkan tentang kecerdasan menyusun skala prioritas.

Mengapa Frugal Living Relevan Saat Ini?

Di tahun 2026, tantangan ekonomi seperti inflasi dan ketidakpastian pasar modal membuat literasi keuangan menjadi tameng utama. Gaya hidup ini menjadi relevan karena beberapa alasan:

Keamanan Finansial: Membangun dana darurat yang lebih kokoh di tengah risiko resesi.

Kebebasan Memilih: Dengan menekan biaya pada hal yang tidak penting (seperti gengsi atau tren sesaat), Anda memiliki dana lebih untuk investasi jangka panjang, misalnya emas atau properti.

Kesehatan Mental: Mengurangi stres akibat utang konsumtif dan gaya hidup yang dipaksakan demi validasi sosial.

Sudut Pandang Ahli: Investasi pada Nilai

Menurut pakar keuangan personal dan penulis buku laris The Psychology of Money, Morgan Housel, kekayaan sejatinya adalah apa yang tidak Anda lihat. Housel menekankan bahwa kemampuan untuk menunda kesenangan sesaat adalah fondasi utama keberhasilan finansial.

"Menabung adalah selisih antara ego Anda dan penghasilan Anda. Frugal living bukan berarti menderita, tetapi memiliki kendali penuh atas waktu dan pilihan hidup Anda di masa depan," — Morgan Housel.

Sejalan dengan itu, pengamat ekonomi sering menekankan bahwa di era inflasi tinggi seperti tahun 2026, menjaga rasio tabungan (savings rate) jauh lebih krusial daripada sekadar mengejar gaya hidup mewah yang bersifat depresif secara nilai.

Suara Masyarakat: Antara Realita dan Pilihan

Di lapangan, penerapan frugal living memicu beragam respons unik dari masyarakat Indonesia. Berikut adalah dua sudut pandang yang sering ditemui:

Perspektif "Value Hunter":

"Bagi saya, frugal itu bukan berarti cari yang termurah. Saya lebih baik beli sepatu seharga 1 juta tapi awet 5 tahun, daripada beli yang 200 ribu tapi setiap 3 bulan jebol. Itu namanya investasi pada kualitas, bukan sekadar pelit," ujar Rina (32), seorang karyawan swasta di Mataram.

Perspektif "Mindful Living":

"Dulu saya merasa harus ikut tren kopi kekinian setiap pagi. Setelah mencoba hidup frugal, saya sadar uang kopi sebulan bisa buat beli emas batangan kecil atau nambah dana darurat. Rasanya jauh lebih tenang punya tabungan daripada punya foto kopi yang estetik tapi saldo ATM kritis," ungkap Budi (28), seorang konten kreator.

Menerapkan frugal living di tahun 2026 adalah langkah strategis untuk menjaga kesehatan mental dan finansial. Dengan memahami skala prioritas, kita berhenti menjadi budak tren dan mulai menjadi tuan atas keputusan finansial kita sendiri. Hidup hemat adalah bentuk apresiasi terhadap kerja keras kita dengan memastikan setiap rupiah yang dihasilkan memberikan dampak jangka panjang bagi masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....