OJK NTB: Sektor Jasa Keuangan Tumbuh Positif, Kredit Naik 9 Persen dan DPK 13 Persen
- 06 Mar 2026 09:18 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Rudi Sulistiyo, menyebut kinerja sektor jasa keuangan nasional maupun daerah hingga akhir 2025 masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, meski sempat mengalami tekanan dari dinamika global.
Rudi menjelaskan, pasar modal sempat mengalami koreksi akibat gejolak geopolitik, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Per Desember IHSG sempat mengalami penurunan sekitar 4 persen, namun secara umum performanya masih cukup baik dan berada di kisaran level 7.500,” ujarnya Kamis, 5 Maret 2026.
Menurutnya, sektor perbankan juga menunjukkan pertumbuhan yang solid. Penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh sekitar 9 persen secara tahunan dengan total mencapai Rp8.586 triliun.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih tinggi yakni sekitar 13 persen dengan nilai mencapai Rp10.059 triliun.
“Artinya intermediasi perbankan masih berjalan cukup baik. Ini menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi tetap bergerak positif,” katanya.
Di sektor industri keuangan nonbank, kinerja juga tercatat meningkat. Aset industri perasuransian nasional tumbuh sekitar 7,5 persen dengan total mencapai Rp411 triliun.
Sedangkan dana pensiun mencatat pertumbuhan sebesar 7,41 persen dengan total aset sekitar Rp981 triliun.
Rudi menambahkan, pertumbuhan sektor jasa keuangan juga terlihat di NTB. Perekonomian daerah ditopang oleh pertumbuhan kredit yang mencapai 10,21 persen secara tahunan.
“Pertumbuhan kredit di NTB didominasi sektor konsumsi yang mencapai sekitar Rp32 triliun,” jelasnya.
Namun demikian, sektor investasi menunjukkan lonjakan yang cukup signifikan dengan nilai mencapai Rp6,8 triliun.
Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga di NTB juga mengalami pertumbuhan sebesar 10,19 persen secara tahunan, dengan kontribusi terbesar berasal dari tabungan masyarakat yang mencapai Rp26,481 triliun.
Pada sektor pasar modal, tingkat inklusi keuangan di NTB juga terus meningkat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan Single Investor Identification (SID), khususnya pada produk reksa dana.
“SID reksa dana masih mendominasi dengan jumlah sekitar 211 ribu SID atau meningkat 30,07 persen,” ungkap Rudi.
Selain itu, nilai transaksi saham investor di NTB tercatat mencapai sekitar Rp1,5 triliun.
Di sisi perlindungan konsumen, OJK NTB juga mencatat adanya peningkatan layanan pengaduan masyarakat sepanjang 2025.
Total pengaduan yang diterima mencapai 1.230 aduan. Sementara permintaan layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan atau OJK Checking tercatat sebanyak 5.187 permintaan secara online dan 2.990 permintaan melalui layanan langsung di kantor.
“Tema pengaduan yang paling banyak berkaitan dengan restrukturisasi kredit, kemudian permintaan informasi SLIK, serta perilaku penagih,” kata Rudi.
Ia menambahkan, berdasarkan jenis pelaku usaha jasa keuangan (PUJK), pengaduan terbanyak berasal dari perusahaan pembiayaan dan lembaga keuangan mikro dengan porsi sekitar 54 persen.
OJK NTB, lanjut Rudi, akan terus memperkuat pengawasan sekaligus meningkatkan perlindungan konsumen guna menjaga stabilitas sektor jasa keuangan di daerah.