Harga Telur Turun, Daya Beli Masyarakat Melemah
- 07 Sep 2026 15:56 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu — Harga telur ayam di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, turun dari Rp56 ribu menjadi Rp54 ribu per krat. Penurunan harga terjadi saat pasokan melimpah, namun di sisi lain daya beli masyarakat justru melemah.
Kondisi ini membuat pedagang telur harus menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni banyaknya pasokan dan rendahnya permintaan. Telur yang tersedia cukup banyak, sementara masyarakat cenderung mengurangi jumlah pembelian.
Pedagang telur di Pasar Induk Dompu, Siti Aminah, mengatakan kondisi pasar saat ini relatif sepi. Masyarakat masih membeli telur untuk kebutuhan konsumsi, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.
“Pasokan banyak, jadi ya sudah turun harga. Sepi, daya beli nggak ada. Masyarakat nggak punya uang, jadi nggak bisa beli,” katanya, Senin, 7 September 2026.
Menurutnya, pembeli masih datang ke pasar, namun pola belanja berubah. Jika sebelumnya membeli dalam jumlah lebih banyak, kini sebagian masyarakat memilih membeli sedikit demi sedikit sesuai kemampuan.
“Daya belinya turun. Pembeli tetap ada untuk konsumsi, cuma ya menurun. Mereka juga nggak beli banyak, banyak yang beli sedikit-sedikit,” katanya.
Kabupaten Dompu bukan daerah penghasil telur. Kebutuhan telur masyarakat selama ini dipenuhi dari luar daerah, terutama Pulau Lombok dan Blitar, Jawa Timur.
Dari dua sumber pasokan tersebut, telur asal Blitar cenderung lebih murah dibandingkan telur dari Lombok. Selisih harganya sekitar Rp1.000 per krat.
Melimpahnya pasokan dan menurunnya permintaan membuat pedagang tidak bisa hanya mengandalkan lapak di pasar. Sejumlah pedagang bahkan memilih menjual telur menggunakan mobil di pinggir jalan untuk menjangkau konsumen secara langsung.
Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari penumpukan stok. Sebab, jika hanya menunggu pembeli di pasar, pedagang khawatir telur tidak cepat terjual sementara pasokan terus masuk.
Meski demikian, dari sisi ketersediaan, pasokan telur di Kabupaten Dompu masih aman. Hingga kini belum ada kendala berarti dalam distribusi maupun pemenuhan kebutuhan telur masyarakat.
Pedagang juga tidak bergantung pada satu daerah pemasok. Selain Lombok, pasokan dari Blitar menjadi alternatif. Kondisi ini membuat kebutuhan telur tetap dapat dipenuhi apabila terjadi gangguan pasokan dari salah satu daerah.
Di tengah harga yang turun, persoalan utama justru berada pada sisi permintaan. Telur memang semakin mudah ditemukan dan harganya lebih murah, tetapi kemampuan masyarakat untuk membeli dalam jumlah besar semakin terbatas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....