Omzet Pedagang Ayam Pedaging Dompu Terus Mengalami Penurunan
- 31 Agt 2026 10:09 WIB
- Mataram
RRI CO.ID, Dompu – Pedagang dan pengusaha ayam pedaging di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, mulai mengeluhkan penurunan omzet penjualan. Kondisi tersebut dipicu melemahnya daya beli masyarakat, sementara peluang memasok ayam ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga belum mampu menjadi solusi bagi pedagang kecil.
Supriyanto, salah seorang pedagang ayam pedaging di Pasar Induk Dompu, mengatakan permintaan ayam dari warung makan maupun rumah tangga dalam beberapa waktu terakhir mengalami penurunan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat perputaran dagangan semakin lambat. Pedagang harus menyesuaikan jumlah stok agar tidak mengalami kerugian akibat ayam yang tidak segera terjual.
“Sekarang permintaan dari warung dan rumah tangga juga menurun. Omzet otomatis ikut turun,” ujar Supriyanto, Senin, 31 Desember 2026.
Ia mengaku pernah mencoba menawarkan ayam dagangannya untuk memenuhi kebutuhan salah satu SPPG. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena statusnya hanya sebagai pedagang kecil.
Menurut Supriyanto, SPPG cenderung membutuhkan pemasok dengan kapasitas dan persyaratan tertentu, sehingga pedagang kecil seperti dirinya sulit masuk dalam rantai pasok tersebut.
Selain persoalan perizinan dan persyaratan sebagai pemasok, persoalan harga juga menjadi kendala. Harga pembelian yang ditawarkan untuk kebutuhan SPPG dinilai berada di bawah harga pasar.
Kondisi itu menjadi persoalan bagi pedagang kecil karena margin keuntungan semakin tipis. Ditambah lagi, sistem pembayaran dengan mekanisme jatuh tempo membuat modal usaha tidak bisa segera berputar.
“Kalau pembayarannya jatuh tempo, modal kita tertahan. Bagi pedagang kecil, itu sangat berpengaruh karena uang dagangan harus diputar lagi untuk membeli stok berikutnya,” katanya.
Supriyanto berharap pemerintah dapat memperhatikan keberadaan pedagang dan pengusaha ayam lokal dalam pengadaan kebutuhan SPPG.
Menurutnya, jika pedagang lokal diberikan kesempatan menjadi bagian dari rantai pasok SPPG dengan mekanisme pembayaran yang lebih cepat dan harga yang wajar, program tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan bergizi masyarakat, tetapi juga dapat menggerakkan ekonomi lokal.
Ia menilai persoalan yang dihadapi pedagang ayam saat ini tidak berdiri sendiri. Pelemahan aktivitas ekonomi di daerah turut berdampak terhadap daya beli masyarakat.
Terlebih, pasar tradisional sangat bergantung pada perputaran uang masyarakat. Ketika belanja masyarakat menurun, dampaknya langsung dirasakan pedagang.
Menurut Supriyanto, salah satu faktor yang sangat memengaruhi perputaran ekonomi di Dompu adalah belanja pegawai. Ketika terjadi penundaan atau keterlambatan pembayaran hak-hak pegawai, uang yang biasanya beredar di pasar ikut berkurang.
“Kalau pembayaran pegawai tertunda, dampaknya terasa sampai ke pasar. Uang tidak berputar, akhirnya pedagang juga ikut merasakan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat menjaga kelancaran belanja pemerintah dan pembayaran pegawai, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi di pasar kembali bergerak.
Bagi pedagang ayam pedaging, keberlangsungan usaha bukan hanya bergantung pada ketersediaan ayam, tetapi juga pada kemampuan masyarakat membeli dan lancarnya uang berputar dari konsumen, pedagang hingga pemasok.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....