Gili Trawangan Andalkan Insinerator Korea Tekan Timbunan Sampah

  • 10 Agt 2026 19:46 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Utara — Pengelolaan sampah di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, mulai mengandalkan PARK PYRO salah satu mesin insinerator asal Korea untuk menekan timbunan sampah di kawasan wisata tersebut.

Mesin tersebut menjadi satu-satunya dari tiga unit mesin pengolahan sampah yang saat ini masih dapat dioperasikan. Dua mesin lainnya yang merupakan produk dalam negeri dihentikan pengoperasiannya karena terkendala hasil uji emisi.

Pengurus Yayasan Front Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL) Gili Trawangan, Cahyo Kurniawan, mengatakan mesin asal Korea tersebut dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan dua mesin lainnya.

“Yang dari Korea ini lebih ramah lingkungan. Kalau yang Korea hanya membutuhkan gas dan listrik,” kata Cahyo di Gili Terawangan, Senin 10 Agustus 2026.

Menurutnya, gas pada mesin tersebut hanya digunakan sebagai pemicu pembakaran. Setelah mesin menyala, proses pembakaran dapat berlangsung dengan sistem yang dirancang untuk mengolah sampah.

Keunggulan lain mesin tersebut terletak pada kapasitas pengolahannya. Berdasarkan informasi dari penyedia layanan, satu unit mesin insinerator Korea itu diperkirakan mampu mengolah hingga sekitar 20 ton sampah per hari jika dioperasikan selama 24 jam.

Kapasitas tersebut menjadi penting karena volume sampah di Gili Trawangan terus meningkat, terutama saat musim ramai wisatawan. Produksi sampah saat high season disebut mencapai sekitar 22 ton per hari.

“Kalau insinerator ini beroperasi 24 jam nonstop, menurut penyedia layanan bisa sampai 20 ton per hari,” ujarnya.

Dengan kapasitas tersebut, mesin insinerator Korea diharapkan mampu menjadi salah satu instrumen utama untuk mengurangi sampah yang menumpuk di lokasi pengelolaan sampah Gili Trawangan.

Namun, pemanfaatan mesin belum dapat dilakukan secara maksimal. Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan tenaga kerja. Jika mesin dioperasikan selama 24 jam, diperlukan sistem kerja tiga shift sehingga membutuhkan tambahan pekerja.

Cahyo mengatakan, selama ini FMPL turut menanggung biaya tenaga kerja untuk mendukung pengoperasian mesin. Karena itu, dukungan pemerintah diperlukan agar operasional mesin dapat berjalan secara optimal.

“Kalau 24 jam kita operasikan, kita lihat berapa ton sampah yang bisa diselesaikan. Tapi sekarang kendalanya operasional dan tenaga kerja,” katanya.

Cahyo berharap mesin tersebut dapat dioptimalkan terlebih dahulu setelah seluruh aspek perizinan terpenuhi. Uji operasional secara maksimal diperlukan untuk mengetahui kemampuan sebenarnya dalam mengurangi volume sampah Gili Trawangan.

Menurut dia, hasil pengoperasian mesin nantinya dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan kebutuhan penambahan fasilitas pengolahan sampah.

Di sisi lain, dua mesin buatan dalam negeri yang tersedia di lokasi belum dapat digunakan. Kedua mesin tersebut sempat menjalani uji coba sekitar 15 hari, tetapi kemudian dihentikan karena menghasilkan asap yang sangat pekat dan berwarna hitam.

“Dua mesin ini pernah diuji coba sekitar 15 hari. Setelah itu karena polusinya sangat pekat dan asapnya sangat hitam, akhirnya dihentikan oleh Dinas Lingkungan Hidup,” jelasnya.

Cahyo menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penggunaan teknologi pengolahan sampah yang tidak hanya memiliki kapasitas besar, tetapi juga memenuhi standar lingkungan.

Ia berharap pemerintah Kabupaten Lombok Utara memberikan perhatian lebih besar terhadap pengelolaan sampah di Gili Trawangan, mengingat pertumbuhan pariwisata membuat volume sampah terus bertambah.

“Sekarang pembangunan di mana-mana, wisatawan semakin banyak. Kami meminta peran pemerintah lebih besar, khususnya Dinas Lingkungan Hidup,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....