Insinerator Park Pyro Jadi Solusi Tepat Pengelolaan Sampah di Gili Trawangan
- 10 Agt 2026 19:40 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Utara – Persoalan sampah menjadi salah satu tantangan yang dihadapi kawasan wisata Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara. Tingginya aktivitas pariwisata membuat kebutuhan terhadap sistem pengelolaan sampah yang efektif sekaligus ramah lingkungan semakin mendesak.
PT Park Tahta Berjaya menawarkan teknologi insinerator PARK PYRO asal Korea Selatan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Teknologi ini dirancang untuk mengolah sampah melalui proses pembakaran bertingkat dengan sistem pengendalian emisi.
Direktur PT Park Tahta Berjaya, Anatolia Gita, mengatakan teknologi tersebut dinilai cocok diterapkan di Gili Trawangan yang merupakan destinasi wisata internasional.
“Untuk Gili Trawangan ini sangat tepat untuk mengatasi masalah sampah. Banyak wisatawan asing yang sensitif terhadap asap. Kalau ada asap hitam, mereka langsung tahu bahwa ada pembakaran,” kata Ana, di sela sela kunjungan ke TPST GilinTerawangan, Senin 10 Agustus 2026.
Menurut Gita, karakteristik Gili Trawangan yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara membuat aspek lingkungan menjadi perhatian penting. Karena itu, teknologi pengolahan sampah yang digunakan tidak cukup hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga harus memperhatikan emisi yang dihasilkan.
PARK PYRO memiliki tiga ruang pembakaran atau chamber. Sampah yang masuk dibakar secara bertahap hingga beberapa kali sebelum gas hasil pembakaran dialirkan menuju sistem penyaringan.
“Chamber pertama itu pembakaran, kemudian dibakar lagi ke chamber kedua dan ketiga. Setelah tiga kali pembakaran, baru masuk ke filter,” jelasnya.
Teknologi tersebut juga dilengkapi sistem pengendalian polutan udara, antara lain filter kantong, karbon aktif dan pengumpul debu. Menurut Ana, seluruh unit yang telah dipasang menjalani pengujian emisi setelah proses commissioning.
Gita menjelaskan, PARK PYRO mampu mencapai temperatur pembakaran hingga sekitar 1.600 derajat Celsius. Temperatur tinggi tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan proses pembakaran dan mengurangi potensi terbentuknya senyawa berbahaya.
“Kalau teknologi lain pembakarannya sekitar 500 derajat, kita bisa sampai 1.600 derajat. Di 1.200 derajat Celsius itu sudah bisa menghancurkan dioksin,” ujarnya.

Selain menekan emisi, teknologi tersebut diklaim memiliki efisiensi operasional. Ana mengatakan konsumsi listrik mesin relatif rendah karena listrik terutama digunakan untuk proses pemantik dan perangkat pendukung. Setelah pembakaran berlangsung stabil, proses pembakaran lebih banyak memanfaatkan panas dari sampah itu sendiri.
“Listrik kita hanya untuk pemantik. Setelah api menyala, listriknya mati. Jadi seperti menyalakan kompor,” katanya.
Untuk unit berkapasitas pengolahan sekitar 20 ton sampah, biaya operasional yang dikeluarkan terutama untuk kebutuhan gas dan listrik. Efisiensi tersebut, kata Ana, menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam menawarkan teknologi pengolahan sampah untuk daerah-daerah di Indonesia.
“Kenapa kita menghadirkan mesin ini? Karena kita tahu efisiensi di setiap daerah itu berbeda. Kita bikin harganya se-affordable mungkin,” ujarnya.
Gita mengatakan teknologi PARK PYRO yang digunakan saat ini masih sepenuhnya diimpor dari Korea Selatan. Namun, PT Park Tahta Berjaya tengah mempersiapkan pengembangan produk agar dapat memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Targetnya, kata dia, tingkat komponen dalam negeri dapat mencapai sekitar 70 persen dengan menggunakan komponen dan tenaga kerja dari Indonesia.
Selain Gili Trawangan, teknologi PARK PYRO juga telah digunakan di Kota Mataram. Perusahaan juga tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah wilayah lain di Indonesia, termasuk Bandara Soekarno-Hatta.
Gita berharap penggunaan teknologi pengolahan sampah yang sesuai dengan karakteristik kawasan dapat membantu daerah wisata mengurangi persoalan sampah tanpa mengorbankan kualitas lingkungan.
“Teknologi pengelolaan sampah harus efisien, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap lingkungan. Apalagi untuk kawasan seperti Gili Trawangan yang menjadi tujuan wisata internasional,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....