Tata Kelola Bambu NTB yang Tak Sebatas Konstruksi

  • 13 Jul 2026 09:05 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Dusun Sintung Barat, Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, memiliki banyak potensi industri kreatif selain Kopi Sidemen.
  • Desa Karang Sidemen berjarak 29 kilo meter dari Kota Mataram merupakan lokasi sejumlah perajin bambu.
  • DLHK NTB: Rehabilitasi tanaman bambu meliputi upaya swadaya masyarakat di kawasan hutan.

RRI.CO.ID, Mataram - Pengelolaan tanaman bambu yang sebatas konstruksi, kerajinan, hingga alat musik membuat terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang jenis-jenis bambu. Sementara di luar negeri, tanaman bambu dijadikan makanan dan obat-obatan. Salah satunya rebung atau bambu muda yang dapat dikonsumsi setelah dimasak dengan bumbu.

Pengelolaan bambu Nusantara juga menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB. Sekretaris DLHK NTB Samsyiah Samad, S.Hut., M.Si., mengatakan, rehabilitasi tanaman bambu meliputi upaya swadaya masyarakat di kawasan hutan. Upaya rehabilitasi ditujukan untuk mendorong hadirnya regulasi tentang pelestarian tanaman bambu. Meliputi penanaman bambu jenis tabah bersama Universitas Udayana, Bali, sebagai bahan baku obat dan makanan.

Budidaya tersebut, kata Samsiyah di dialog Kentongan RRI Mataram, Selasa, 16 Juni 2026, mesti diimbangi dengan jaminan pasar yang nyata. Agar, memantik upaya pascapanen dari pembudidaya. “Pasar yang jelas mampu memberikan nilai tambah bagi pembudidaya dan pembeli. Selama ini masih belum jelas take and give-nya antara pembudidaya dan pembeli,” kata Samsyiah di tengah dialog yang juga mengundang Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mataram Baiq Yulfia Elsadewi Yanuartati, Ph.D.

Salah satu pasar budidaya tanaman bambu di Lombok, terdapat di Kawasan hutan Gawah Bonga, Lombok Tengah. Pembudidaya bambu di Gawah Bonga, menjual hasil tanaman bambu ke Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat. Kondisi itu berbeda dibanding daerah-daerah di Asia Timur yang lebih memilih menjadikannya cluster industry. Misal, kebun bambu yang menjadi tempat wisata menjadi tempat perajin bambu membuat kerajinan.

“Untuk menjadikan bambu sebagai komoditi ekspor dapat disiasti melalui pembuatan kerajinan tangan berbahan bambu. Lewat kerajinan tangan yang berkualitas, pasar ekspor dapat terbentuk,” kata Baiq Yulfia.

Dusun Sintung Barat, Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, memiliki banyak potensi industri kreatif seperti Kopi Sidemen. Selain industri di bidang makanan terdapat pula industri kerajinan dari bambu yang dibuat dengan ketelitian. Diantaranya bisnis kerajinan bambu yang dirintas UD Bambu Rinjani sejak 2017. Unit Dagang yang produk utamanya terbuat dari bambu.

UD Bambu Rinjani memiliki konsep bisnis sosial yang meproduksi produk ramah lingkungan. Produk ramah tersebut aman digunakan baik di kalangan anak -anak sampai dewasa. Aman pula dari segi kesehatan dan lingkungan. Produk sedotan bambu dijual Rp 2.000 per batang. Tempat pensil atau tempat tisu dijual Rp 10.000 per unit, alat makan Rp 40.000 per set, mangkuk batok kelapa RP 40.000 per unit.

“Hasil produksi disortir terlebih dahulu. Termasuk produk keranjang anyaman. Untuk yang ukir harga disesuaikan dengan tingkat kesulitan,” kata Mahuni ketika menjadi narasumber di Dialog NTB Pagi Pro 1 RRI Mataram, bertopik Perajin Kayu dan Bambu Menjemput Peluang.

Menurut Mahuni, bahan baku bambu diperoleh dari Karang Sidemen. Bambu yang digunakan berusia tua dan dalam kondisi kering. Untuk bambu yang muda kualitasnya kurang bagus. Produk dari bambu dikerjakan Mahuni bersama beberapa orang perajin lainya. Semua bertempat tinggal di Karang Sidemen dan semua perajinnya dari kalangan perempuan.

Desa Karang Sidemen berjarak 29 kilo meter dari Kota Mataram. karang Sidemen bersebalahan dengan Taman Nasional Rinjani (barat). Terdapat beberapa potensi parwisata di Karang Sidemen yaitu Danau Biru, Pemandian Spiritual Nyeredet, Aur Terjun Datu Bajang, Glamping. Horty Park, Tahura Nuraksa, Air Terjun Batu Belah dan Gawah Monte. Secara geografis Karang Sidemen masuk zona lereng Rinjani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....