Tanaman Bambu HHBK NTB Bernilai Ekonomi dan Ekologi
- 09 Jul 2026 14:06 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Tanaman bambu di NTB dikenal sebagai HHBK yang memiliki nilai ekonomi dan ekologi.
- Negeri pengekspor bambu seperti China dan Amerika Latin terus memperluas pasar.
- Penjualan bambu masih gelondongan, jika diolah maka dapat menjadi bahan makanan, bahan baku fornitur dan mebel yang keuntungannya bisa tiga kali lipat dari biaya produksi.
RRI.CO.ID, Mataram – Tanaman bambu di Nusa Tenggara Barat (NTB) dikenal sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu atau HHBK yang memiliki nilai ekonomi dan ekologi. Tanaman bambu sudah sejak lama memberi manfaat bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan Lombok dan Sumbawa.
Selain memiliki manfaat sebagai bahan baku kerajinan dan alat rumah tangga. Bambu juga memiliki fungsi sebagai materi bangunan atau arsitektur. Bahkan pada kejadian Gempa Lombok 2018, cukup banyak masyarakat yang membangun konstruksi atap rumah menggunakan bahan dari bambu. Di sisi lain, bambu dijadikan tanaman hias oleh kalangan kolektor.
Tanaman bambu saat ini telah bahan baku obat tradisional dan makanan tradisional. Salah satu contoh makanan dari bambu adalah rebung (bambu muda). Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB Samsyiah Samad, S.Hut., M.Si., mengatakan, masyarakat di Pulau Lombok kebanyakan menanam bambu di pinggir Sungai. Tujuannya agar mampu menahan laju abrasi di samping untuk kebutuhan lainnya.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi NTB telah bekerjasama dengan Universitas Udayana untuk membudidayakan bambu tabah di Lombok. “Pemasaran bambu harus terus diperluas. Yang terpenting adalah pascapanennya, karena bambu mudah terserang penyakit dan menjadi bubuk,” kata Samsyiah di tengah dialog Kentongan bertopik Konservasi, Budidaya, dan Pemberdayaan Perajin Bambu untuk Pelestarian Lingkungan, Selasa, 16 Juni 2026 di Pro 1 RRI Mataram. Hadir pula sebagai narasumber Baiq Yulfia Yanuartati, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mataram.
Samsyiah menyatakan, produk dari bambu banyak menghadapi kiriman bambu dari luar NTB. Sehingga membuat produksi bambu dalam negeri kurang diminati dan kalah bersaing di Tingkat konsumen. Sedangkan negeri-negara pengekspor bambu seperti China dan Amerika Latin terus memperluas pasar. Baik secara kuantitas maupun kualitas. “Harus ada proteksi dari dalam negeri terhadap produk bambu dari daerah. Oleh karena bambu ikut mempertegas konsep pariwisata berkelanjutan,” katanya.
Tanaman bambu yang beragam menunjukan kekayaan biodiversiti Indonesia. Kekayaan itu menguntungkan masyarakat. Banyaknya peristiwa bencana alam di NTB membuat Sebagian masyarakat beralih memilih bambu sebagai alternatif bahan bangunan. Kini peluang mengembangkan tanaman bambu sangat terbuka untuk menjembatani tugas dan fungsi Koperasi Merah Putih di Desa.
Samsyiah mengaku optimis salah satu jenis tanaman HHBK ini mampu menjadi peluang bagi bagi universitas untuk melakukan riset. Dengan begitu terjadi kolaborasi antar pihak untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Ke depan, banyak lagi muncul desa wisata bambu, dan restoran bambu. Kehadiran spot pariwisata itu karena kontribusi sektor swasta dalam konteks pendanaan budidaya bambu.
Tantangan saat ini, kata Samsyiah ada di teknis penjualan yang masih gelondongan. Padahal, jika diolah maka dapat menjadi bahan makan. Kemudian lebih lanjut lagi menjadi bahan baku fornitur dan mebel. Yang keuntungannya bisa tiga kali lipat dari biaya produksi.
“Sementara, ketika ditanam dipinggir Sungai menjadi sumber daya ekonomi lingkungan yang dapat dihitung,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....