OJK dan Wartawan Ekonomi NTB Belajar Pengelolaan Koperasi Modern di KAN Jabung

  • 19 Jun 2026 05:28 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Malang – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis (FWEB) NTB melakukan kunjungan studi ke Koperasi Produsen Agro Niaga Syariah (KAN Jabung) di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis 18 Juni 2026. Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari model pengembangan koperasi pertanian yang dinilai berhasil memberdayakan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya secara berkelanjutan.

Kepala OJK NTB, Rudi Sulistyo, mengatakan KAN Jabung merupakan salah satu contoh koperasi yang mampu bertahan dan berkembang melalui pengelolaan usaha yang terintegrasi, mulai dari produksi, pemasaran hingga akses pembiayaan bagi anggota.

Menurutnya, pengalaman KAN Jabung penting dipelajari seiring dengan semakin kuatnya dorongan pemerintah untuk mengembangkan koperasi sebagai penggerak ekonomi masyarakat, termasuk melalui pembentukan Koperasi Desa Merah Putih dan berbagai program pemberdayaan ekonomi desa lainnya.

"Kami ingin mengambil pelajaran dari KAN Jabung. Mengapa koperasi ini bisa bertahan, berkembang, dan mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Jangan sampai program penguatan koperasi yang saat ini digalakkan tidak berkelanjutan," kata Rudi saat diskusi di Malang.

Dalam pertemuan tersebut, pengurus KAN Jabung menjelaskan sejumlah faktor kunci keberhasilan koperasi, di antaranya kepastian pasar bagi produk anggota, ketersediaan akses pembiayaan, serta penguatan kapasitas produsen. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi utama yang menjaga keberlangsungan usaha koperasi.

Rudi menilai model tersebut relevan diterapkan di NTB yang memiliki potensi besar di sektor pertanian dan peternakan. Komoditas unggulan seperti jagung dan sapi Bali dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui skema koperasi produsen yang kuat dan terintegrasi.

"Kami melihat banyak kesamaan potensi antara Malang dan NTB. Jika di sini ada sapi perah, tebu, dan jagung, maka di NTB ada sapi Bali dan jagung yang produksinya bahkan sudah memasok ke daerah lain. Potensi ini bisa diperkuat melalui koperasi yang sehat dan profesional," ujarnya.

Untuk mendukung pengembangan koperasi di daerah, OJK NTB berencana mendorong kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga keuangan daerah. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah mempertemukan koperasi dengan lembaga pembiayaan melalui skema business matching agar akses permodalan semakin terbuka.

"Kami akan mencoba memfasilitasi business matching, termasuk melibatkan lembaga keuangan daerah agar dapat memberikan dukungan kepada koperasi-koperasi yang memiliki potensi berkembang," katanya.

Rudi menambahkan, keberadaan koperasi produsen yang kuat dapat menciptakan ekosistem usaha yang lebih efisien bagi petani dan peternak. Dalam model tersebut, anggota dapat fokus pada aktivitas produksi, sementara koperasi berperan menyediakan sarana produksi, pembiayaan, hingga pemasaran hasil usaha.

Ia mencontohkan praktik koperasi di sejumlah negara maju, di mana petani dan peternak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, sedangkan seluruh kebutuhan usaha dan penjualan hasil ditangani oleh koperasi. Pola tersebut terbukti mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan anggota.

"Koperasi harus menjadi instrumen peningkatan kesejahteraan anggota. Jika koperasi berkembang, maka petani dan peternak juga akan berkembang karena memiliki kepastian pasar dan dukungan pembiayaan," ujarnya.

Melalui kunjungan ini, OJK NTB berharap lahir lebih banyak koperasi produsen berbasis agribisnis di NTB yang mampu mengonsolidasikan potensi ekonomi masyarakat desa, memperkuat rantai pasok komoditas unggulan daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Sementara itu, Presiden Direktur KAN Jabung, Eva Marliyanti, mengatakan koperasi tersebut berdiri pada tahun 1979 dengan nama awal Koperasi Unit Desa (KUD) Jabung. Seiring perkembangan usaha, koperasi melakukan transformasi menjadi KAN Jabung dengan berbagai unit bisnis yang saling terhubung.

“Rantai nilai pertanian kami sudah terbangun cukup baik, mulai dari input produksi pertanian melalui Jab Farm, budidaya, pascapanen, pengolahan susu dan tebu, hingga pemasaran produk yang siap masuk ke pasar,” ujar Eva.

Menurutnya, penguatan permodalan koperasi dilakukan melalui penghimpunan dana masyarakat yang kemudian diberi status sebagai anggota luar biasa. Dana tersebut selanjutnya disalurkan kembali sebagai modal usaha bagi anggota koperasi.

Saat ini, KAN Jabung memiliki total anggota dan mitra sebanyak 55.927 orang, terdiri atas 2.041 peternak pada tahun 2025 serta ribuan anggota dan mitra yang bergerak di berbagai sektor usaha.

Di sektor pertanian, koperasi memiliki 91 anggota dan 157 mitra dengan total luas lahan anggota mencapai 1.247 hektare, sedangkan lahan mitra seluas 284 hektare.

Sementara pada sektor peternakan sapi perah, populasi ternak yang dikelola mencapai sekitar 7.900 ekor. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan sebelum wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang mencapai 11.500 ekor.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....