26 Tahun Menjaga Asa di Lapak Sederhana Pasar Pagesangan

  • 23 Apr 2026 15:11 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pagi belum sepenuhnya sibuk di Pasar Pagesangan. Udara masih terasa segar, dan lorong-lorong pasar belum dipadati pembeli. Namun di salah satu sudutnya, aktivitas sudah dimulai lebih awal. Tumpukan pakaian perlahan dirapikan, digantung, lalu disusun dengan rapi. Di balik kesibukan itu, tampak sosok perempuan paruh baya dengan gerakan cekatan, dialah Ibu Rohani.

Di usianya yang ke-52 tahun, Ibu Rohani tetap setia menjalani rutinitas yang telah ia tekuni selama lebih dari dua dekade. Sejak pasar ini pertama kali dibuka pada 26 Maret 2001, ia sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan di sana. Lapak konveksi sederhana miliknya bukan sekadar tempat berjualan, melainkan ruang panjang perjuangan hidup yang ia rawat selama 26 tahun.

Setiap hari, sejak pukul 07.00 pagi hingga 13.00 siang, ia menunggu pembeli dengan sabar. Di tengah hiruk pikuk pasar, suara tawar-menawar, langkah kaki yang berlalu lalang, ia tetap teguh berdiri, meski tak jarang harus menghadapi hari-hari yang sepi.

Jarak sekitar dua kilometer dari rumah ke pasar bukanlah hal yang memberatkannya. Justru tantangan terbesar datang saat pembeli tak kunjung datang. Namun bagi Ibu Rohani, berhenti bukanlah pilihan.

“Namanya usaha, pasti ada naik turunnya,” ucapnya tenang, seolah telah berdamai dengan segala kemungkinan, Kamis pagi 23 April 2026.

Baginya, berdagang bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi bentuk tanggung jawab sebagai seorang ibu. Dari lapak kecil itulah, ia menggantungkan harapan untuk menghidupi keluarga dan memperjuangkan masa depan anak-anaknya.

Di tengah ketidakpastian penghasilan, keyakinan menjadi pegangan utama. Ia percaya bahwa setiap usaha akan menemukan jalannya sendiri.

“Kalau kita sudah berusaha, insyaAllah rezeki tidak akan tertukar,” tuturnya lirih.

Rata-rata jumlah barang yang terjual setiap hari memang tidak menentu. Terkadang, dalam satu hari hanya sekitar empat potong pakaian yang berhasil terjual. Dengan modal awal sebesar lima juta rupiah, ia mampu meraup keuntungan harian berkisar antara Rp50.000 hingga Rp100.000. Meski sederhana, penghasilan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.

Ibu Rohani memiliki tiga orang anak. Bersama sang suami yang bekerja sebagai wiraswasta dengan penghasilan sekitar Rp100.000 per hari, mereka bahu-membahu membangun kehidupan keluarga. Hasil dari kerja keras itu kini mulai terasa. Ketiga anaknya telah berhasil menyelesaikan pendidikan, bahkan ada yang menempuh hingga jenjang S1 dan S2. Kini, mereka pun telah memiliki pekerjaan masing-masing.

Lebih dari sekadar menjual pakaian, Ibu Rohani juga menjaga hubungan dengan para pelanggan. Keramahan menjadi prinsip yang ia pegang teguh selama bertahun-tahun.

“Kita harus ramah sama pembeli, hargai mereka. Karena dari mereka kita bisa bertahan sampai sekarang,” katanya sambil melayani pembeli yang datang.

Kisah Ibu Rohani mungkin terlihat sederhana. Namun di balik lapak kecilnya, tersimpan cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan harapan yang tak pernah padam. Ia menjadi potret nyata dari banyak pedagang pasar tradisional yang terus bertahan di tengah berbagai tantangan zaman.

Menjelang siang, ketika suasana pasar mulai lengang, ia kembali merapikan dagangannya. Hari itu mungkin tidak selalu memberikan hasil besar, tetapi cukup untuk membuatnya kembali datang keesokan hari.

Sebab bagi Ibu Rohani, setiap pagi selalu membawa harapan yang sama—bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini.(UKI/Haja/RRI)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....