Lestari Tenun: Dari Tradisi Lokal menuju Pasar Global”
- 21 Apr 2026 08:56 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Suara alat tenun yang berirama pelan seolah menjadi napas panjang bagi budaya Lombok yang terus dijaga. Di tengah arus modernisasi, ada sosok perempuan yang memilih berjalan berlawanan arah—bukan meninggalkan tradisi, tetapi justru menghidupkannya kembali.
Dialah Sri Lestari, owner Lestari Tenun, yang hadir dalam program Beranda Astacita: Ruang UMKM di Pro1 RRI Mataram, Senin 20 April 2026 sore, dipandu presenter Apriana. Dalam dialog hangat itu, ia membagikan perjalanan panjang membangun usaha tenun dari nol sejak tahun 2021.
Nama “Lestari” yang ia sandang bukan sekadar identitas, melainkan juga doa dan misi. Sebuah tekad untuk menjaga agar warisan budaya menenun tetap hidup di tanah Lombok.
“Saya merasa punya panggilan untuk melestarikan budaya menenun. Ini bukan sekadar usaha, tapi tanggung jawab sebagai orang Lombok,” ungkapnya.
Tradisi menenun sendiri telah ada sejak masa kolonial Belanda. Namun di era kini, tantangannya berbeda. Bukan lagi sekadar mempertahankan, tetapi bagaimana menjadikan tenun tetap relevan dan bernilai di pasar modern.
Berangkat dari kegelisahan itu, Sri Lestari memutuskan meninggalkan pekerjaannya di dunia perbankan. Sebuah keputusan besar yang tidak semua orang berani ambil. Baginya, jika bukan dirinya yang bergerak, siapa lagi yang akan mengangkat potensi tenun lokal?
Perjalanan itu tidak mudah. Ia bahkan sempat merasa miris melihat hasil kerja keras para penenun—yang membutuhkan waktu hingga tiga bulan—hanya dihargai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.

Dari situlah muncul tekad untuk mengubah cara pandang pasar terhadap tenun. Ia mulai melakukan inovasi, dari segi desain, warna, hingga pengemasan produk agar lebih menarik dan memiliki nilai jual tinggi.
Upaya itu perlahan membuahkan hasil. Karya Lestari Tenun tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga menembus panggung internasional. Sri Lestari bahkan pernah mewakili wilayah Bali-Nusra dalam ajang expo di Jepang.
Namun baginya, kesuksesan bukan hanya soal pasar global. Ada misi sosial yang lebih besar: memberdayakan para penenun, khususnya ibu-ibu di Lombok.
Ia aktif mendampingi para pengerajin, memberikan edukasi tentang pemilihan benang berkualitas, teknik pewarnaan, hingga tren warna yang diminati pasar. Salah satu inovasi yang ia dorong adalah penggunaan pewarna alami, untuk meningkatkan kualitas sekaligus menjaga kepercayaan konsumen.
“Awalnya saya ambil dari pengepul, tapi banyak keluhan soal warna yang luntur. Dari situ saya berpikir untuk beralih ke pewarna alami,” jelasnya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Tidak semua pengerajin mudah menerima perubahan. Sebagian masih enggan mencoba teknik baru. Di sinilah peran edukasi menjadi kunci.
Dengan kesabaran, Sri Lestari terus mendorong perubahan itu. Baginya, menjaga tradisi tidak berarti menolak inovasi. Justru dengan inovasi, tradisi bisa bertahan dan berkembang.
Kini, Lestari Tenun bukan sekadar usaha. Ia telah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan—mengikat benang-benang budaya lokal menjadi karya yang mampu bersaing di panggung dunia.
Sebuah bukti bahwa dari Lombok, tradisi bisa berbicara lantang hingga mancanegara. (UKI/RRI)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....