Harga Tiket Pesawat Melonjak, Astindo NTB Khawatir Ganggu Pertumbuhan Pariwisata

  • 07 Apr 2026 14:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram — Kenaikan harga tiket pesawat menuju Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai mulai mengancam pertumbuhan sektor pariwisata daerah. Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Astindo) NTB menyebut lonjakan harga tiket membuat biaya perjalanan ke Lombok dan destinasi wisata lain di NTB semakin mahal, bahkan berpotensi menurunkan jumlah kunjungan wisatawan.

Ketua Astindo NTB, Sahlan M Saleh, mengatakan komponen tiket pesawat kini menjadi beban terbesar dalam paket perjalanan wisata. Ia mencontohkan harga tiket penerbangan rute Lombok–Jakarta yang telah mencapai Rp3,7 juta.

“Saya berangkat Jumat ke Jakarta, harga tiket sudah Rp3,7 juta. Komponen tiket ini menjadi sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan wisata,” ujar Sahlan, Selasa 7 April 2026 kepada wartawan.

Menurutnya, kenaikan harga tiket tidak hanya disebabkan oleh lonjakan harga avtur. Ia menilai masih banyak komponen biaya lain yang turut membebani harga tiket dan akhirnya ditanggung oleh masyarakat.

Sahlan menyebut kenaikan harga avtur saat ini mencapai sekitar 40 persen. Namun demikian, ia menegaskan bahwa porsi biaya terbesar justru berasal dari komponen lain di luar avtur.

“Kenaikan avtur memang sekitar 40 persen, tetapi 60 persen lainnya berasal dari biaya-biaya lain yang cukup banyak,” katanya.

Ia merinci sejumlah komponen biaya tersebut, antara lain Passenger Service Charge (PSC) atau airport tax, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), biaya garbarata, landing fee, handling, hingga biaya parkir pesawat di bandara.

“Pajak tiket cukup besar, kemudian ada airport tax, landing fee, parkir, garbarata, handling, dan lainnya. Semua itu dibebankan kepada penumpang,” jelasnya.

Karena itu, Astindo meminta pemerintah tidak hanya fokus menekan harga avtur, tetapi juga mengkaji ulang berbagai pungutan di sektor penerbangan.

“Jika pemerintah ingin membantu masyarakat, maka komponen biaya ini perlu dikurangi. Jika biaya-biaya tersebut ditekan, harga tiket bisa turun meskipun avtur naik,” kata Sahlan.

Di tengah tingginya harga tiket pesawat, muncul usulan untuk memperkuat akses ke NTB melalui transportasi laut. Namun, Sahlan menilai moda laut hanya efektif untuk rute jarak dekat seperti Bali–Lombok atau Surabaya–Lombok.

“Untuk Bali-Lombok masih memungkinkan, Surabaya juga masih logis. Tapi kalau dari Jakarta, Medan, atau Makassar menggunakan jalur laut, itu tidak realistis bagi wisatawan,” ujarnya.

Ia menambahkan, wisatawan dari kota-kota besar di luar Bali dan Jawa Timur tetap mengandalkan transportasi udara sebagai akses utama ke NTB.

Astindo juga mengkhawatirkan dampak kenaikan harga tiket terhadap pasar wisatawan mancanegara yang tengah dikembangkan. Saat ini, NTB sedang berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan dari Singapura, Australia, Korea Selatan, dan China.

“Kami sedang berusaha meningkatkan jumlah wisatawan dari beberapa negara. Sedikit saja ada isu harga, dampaknya sangat besar,” kata Sahlan.

Ia mengungkapkan, pihaknya telah menerima pemesanan wisatawan asal China hingga Februari. Namun, terdapat kekhawatiran penurunan pemesanan untuk periode Mei dan Juni jika harga tiket terus meningkat.

Selain faktor harga, kondisi geopolitik global juga turut memengaruhi minat wisatawan. Sahlan menyebut telah terjadi sejumlah pembatalan perjalanan akibat kekhawatiran terhadap konflik internasional.

“Ada pembatalan karena situasi geopolitik, seperti konflik Iran dengan Amerika dan Israel yang membuat wisatawan khawatir,” ujarnya.

Meski demikian, Astindo NTB berupaya meredam dampak isu tersebut agar tidak semakin memengaruhi citra pariwisata daerah di mata wisatawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....