RUPSLB Jadi Awal Penataan Manajemen dan Bisnis PT GNE

  • 07 Jan 2026 10:21 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: PT Gerbang NTB Emas (GNE) akhirnya melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pads Rabu 7 Januari 2026 sebagai upaya menuntaskan kewajiban yang tertunda sejak beberapa tahun terakhir. Dalam RUPSLB tersebut, perseroan mengesahkan laporan keuangan tahun buku 2023 dan 2024 sekaligus menetapkan rencana bisnis tahun 2026. 

Plt Direktur Utama PT GNE, H. Lalu Anas Amrullah, mengatakan pelaksanaan RUPSLB dimungkinkan setelah status rekening perusahaan kembali aktif per 31 Desember lalu.

“RUPSLB ini adalah menjalankan kewajiban yang tertunda, yakni mengesahkan laporan keuangan 2023 dan 2024 serta rencana bisnis 2026. Selama ini RUPS tidak bisa dilaksanakan karena persoalan administrasi, salah satunya rekening yang sempat diblokir,” ujar Lalu Anas.

Ia menjelaskan, laporan keuangan 2024 mencatatkan kondisi rugi. Namun, menurutnya, hal tersebut merupakan gambaran faktual kondisi perusahaan yang harus disampaikan secara terbuka kepada pemegang saham. Kerugian itu terjadi karena sejumlah pos keuangan pada periode sebelumnya tidak ditempatkan pada akun yang semestinya. 

“Kami sepakat untuk memotret kondisi GNE apa adanya. Tidak ada yang disembunyikan,” katanya.

Dalam RUPSLB tersebut, PT GNE juga menyepakati pembentukan panitia seleksi (pansel) untuk menyiapkan pengurus baru. Pansel direncanakan mulai bekerja pada Maret–April, beriringan dengan pelaksanaan RUPS tahun buku 2025. 

Anas menegaskan, kriteria calon direksi akan mengacu pada peraturan daerah dan ketentuan perundang-undangan, dengan penekanan pada kapasitas dan komitmen membenahi perusahaan. “Yang pasti, dibutuhkan figur yang punya passion untuk menyelesaikan persoalan dan membawa GNE ke arah yang lebih sehat,” katanya.

Menurut Anas, ke depan, perseroan memilih fokus pada bisnis inti yang masih memungkinkan untuk menopang operasional sekaligus menyelesaikan kewajiban utang kepada perbankan. Meski masih dibayangi kewajiban, PT GNE ditargetkan tetap mampu berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). 

“Sebagai BUMD, tantangan kami adalah tetap beroperasi secara menguntungkan dan memberikan kontribusi kepada daerah, meskipun masih memiliki utang,” ujarnya.

Untuk tahun buku 2025, Anas menyebut perusahaan mencatatkan laba sekitar Rp250 juta. Dari laba tersebut, terdapat potensi pembagian dividen sebesar 50 persen. “Ini menjadi sinyal bahwa GNE masih memiliki peluang untuk bangkit, sepanjang fokus pada bisnis inti dan pengelolaan yang lebih disiplin,” kata Miq Anas, sapaan akrabnya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....