Kopi Sembalun Kian Diminati, Petani Hadapi Keterbatasan Produksi
- 21 Nov 2025 17:01 WIB
- Mataram
KBRN, Lombok Timur: Radio Republik Indonesia (RRI) Mataram mengadakan Dialog Luar Studio (DLS) di Kebon Kopi, Sembalun, Lombok Timur, pada Jumat (21/11/2025). Pada kesempatan tersebut, salah satu pengelola Kebon Kopi Sembalun, Lalu Aulia Rahman, mengungkapkan bahwa popularitas kopi Sembalun terus meningkat berkat promosi aktif yang dilakukan oleh para pelaku usaha lokal.
Aulia menjelaskan bahwa penggunaan media sosial, platform digital, dan jejaring pertemanan menjadi pendorong utama berkembangnya brand kopi Sembalun dalam beberapa tahun terakhir.
“Dari awal kami buka, semua media kita pakai untuk promosi. Teman-teman juga ikut membantu untuk mempromosikan, jadi penyebarannya cepat sekali. Mulai dari Instagram, Facebook, sampai grup-grup WA itu sangat membantu, karena semua orang ikut mendukung dan mempromosikan,” jelasnya.

Meskipun demikian, peningkatan minat khalayak terhadap kopi Sembalun belum dapat dipenuhi sepenuhnya karena volume produksi kopi Sembalun masih terbatas. Aulia menegaskan bahwa kondisi ini membuat pasar kopi Sembalun masih terkonsentrasi pada konsumen lokal.
“Untuk kopi Sembalun ini masih memenuhi permintaan lokal. Untuk ekspor belum bisa karena volume masih terlalu kecil, masih jauh dari kapasitas untuk memenuhi permintaan besar. Jadi sementara kita fokus menyuplai yang di sekitar saja dulu,” terangnya.
Wisatawan mancanegara yang datang ke Sembalun juga menunjukkan ketertarikan besar terhadap cita rasa kopi lokal. Aulia mengungkapkan bahwa tidak sedikit wisatawan yang meminta untuk membawa pulang kopi dalam jumlah besar, namun pelaku usaha belum mampu menyediakannya.
“Begitu mereka mencicipi kopi Sembalun, mereka langsung tertarik untuk membawanya ke negara asalnya. Ada yang minta 5, 10, bahkan sampai 20 kilogram. Tapi kita nggak bisa penuhi karena volumenya kurang. Kita tidak mau asal kasih, kalau stok tidak cukup, takut kualitasnya tidak terjaga kalau dipaksakan,” ungkapnya.
Salah satu pengelola Kebon Kopi lainnya, Lalu Zakirahman, mengaku bahwa tingginya permintaan ini menjadi motivasi untuk kembali menanam kopi secara lebih serius. Ia menjelaskan bahwa produksi kopi Sembalun sempat menurun drastis beberapa tahun lalu.
“Tahun 2017 itu kita anggap kopi nggak ada, dari nol. Hampir semua petani berhenti panen karena memang tidak ada yang bisa dipanen. Baru tujuh atau delapan tahun ini mulai berkembang lagi, mulai banyak yang tanam, dan mulai kelihatan hasilnya,” ujarnya.
Ia optimis bahwa dalam dua atau tiga tahun mendatang, produksi kopi Sembalun akan berada dalam kondisi yang jauh lebih siap untuk memenuhi permintaan pasar yang besar.
“Mungkin dua atau tiga tahun lagi, kopi Sembalun itu sudah benar-benar punya stok. Karena banyak tanaman baru yang mulai masuk fase produksi, jadi kita berharap hasilnya akan lebih stabil dan bisa memenuhi permintaan yang sekarang belum bisa kita penuhi,” tuturnya.
Dari segi kualitas, kopi Sembalun terus mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk wisatawan yang datang dari berbagai negara. Zakirahman menegaskan bahwa cita rasa kopi lokal tidak kalah dengan kopi dari luar negeri.
“Dari segi rasa, kopi kita nggak kalah sama kopi luar. Banyak tamu yang bilang rasanya kompleks, aromanya kuat, dan punya karakter yang tidak mereka temukan di tempat lain. Itu yang membuat mereka balik lagi dan bertanya terus soal ketersediaan stok,” tegas Zakirahman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....