Warga Bima dan Dompu Diminta Waspada, Ini Alasannya

  • 20 Agt 2026 08:15 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Bima - Masyarakat di wilayah Kabupaten Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi di tengah kondisi puncak musim kemarau.

Selain ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir juga perlu mewaspadai potensi gelombang tinggi yang diprakirakan terjadi pada 19 hingga 22 Agustus 2026.

Berdasarkan prakiraan kondisi laut, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di Perairan Utara Bima-Dompu dan Perairan Selatan Bima. Sementara itu, gelombang lebih tinggi berpotensi terjadi di Samudra Hindia Selatan NTB, dengan ketinggian mencapai 2,5 hingga 4 meter.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi nelayan, pengguna transportasi laut, wisatawan, maupun masyarakat yang melakukan aktivitas di sekitar pesisir. Gelombang tinggi dapat meningkatkan risiko terhadap keselamatan pelayaran dan aktivitas masyarakat di laut.

Menghadapi potensi tersebut, para pemangku kepentingan bersama masyarakat di wilayah rawan bencana di Bima dan Dompu diimbau meningkatkan kesiapsiagaan serta melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini.

Pada kondisi musim kemarau, masyarakat diminta memastikan ketersediaan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun mengantisipasi kemungkinan meningkatnya dampak kekeringan.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kondisi cuaca yang relatif kering dapat menyebabkan api mudah menyebar dan berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, terutama apabila disertai angin kencang.

Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana. Sampah maupun material yang dapat menyumbat saluran air perlu dibersihkan secara berkala sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi cuaca.

Langkah pencegahan lainnya adalah memangkas dahan atau ranting pohon yang sudah rapuh dan berpotensi tumbang. Upaya tersebut penting dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak angin kencang yang dapat membahayakan masyarakat maupun menyebabkan kerusakan fasilitas umum.

Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir juga diminta memperhatikan kondisi gelombang sebelum melakukan aktivitas di laut. Nelayan dan pengguna jasa transportasi laut diharapkan mempertimbangkan faktor keselamatan serta mengikuti informasi dan peringatan dini terkait kondisi perairan.

Pemerintah daerah, aparat terkait, serta masyarakat diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan guna meminimalkan risiko apabila terjadi bencana.

Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi dan terus mengikuti perkembangan cuaca melalui sumber resmi.

Informasi mengenai kondisi cuaca, potensi gelombang tinggi, serta peringatan dini dapat dipantau melalui Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima dan kanal resmi BMKG Bima.

Kesiapsiagaan sejak dini dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban maupun kerugian akibat bencana hidrometeorologi, sekaligus menjaga keselamatan masyarakat di tengah kondisi musim kemarau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....