Kemiskinan di Sumbawa Turun ke 11,79 Persen

  • 04 Mar 2026 15:18 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Sumbawa - Angka kemiskinan di Kabupaten Sumbawa, menunjukkan tren penurunan dalam dua tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa mencatat, jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 sebesar 58,23 ribu orang, atau 11,79 persen dari total penduduk.

Kepala BPS Kabupaten Sumbawa, Yudi Wahyudin, mengungkapkan angka tersebut turun 4,77 ribu orang dibandingkan Maret 2024. Secara persentase, tingkat kemiskinan juga menurun 1,08 persen dari tahun sebelumnya.

“Dibandingkan Maret 2023, jumlah penduduk miskin berkurang 9,17 ribu orang. Persentasenya juga turun 2,12 persen dalam dua tahun terakhir,” ujarnya pada kegiatan Koordinasi Lintas Sektor bersama Dinas Sosial, BPS, dan BPJS serta sosialisasi status kepesertaan PBI JKN bagi kepala desa dan lurah se-Kabupaten Sumbawa, 4 Maret 2026, di Aula Dinas Sosial Sumbawa.

Ia memaparkan, secara historis, periode Maret 2015 hingga Maret 2025 memperlihatkan kecenderungan penurunan angka kemiskinan, baik dari sisi jumlah maupun persentase. Meski demikian, sempat terjadi kenaikan pada 2021 dan 2023. Lonjakan pada 2021 dipicu dampak pandemi Covid-19, sementara kenaikan pada 2023 dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada akhir triwulan III 2022, yang berdampak pada meningkatnya harga kebutuhan pokok.

BPS mencatat, penurunan angka kemiskinan pada Maret 2025 dipengaruhi sejumlah faktor. Diantaranya deflasi month-to-month pada awal 2025 sebesar minus 0,390 persen, pertumbuhan ekonomi year on year yang mencapai 6,32 persen pada triwulan I 2025, serta berbagai program intervensi pengentasan kemiskinan yang dijalankan pemerintah daerah.

Dari sisi pengukuran, Garis Kemiskinan (GK) Kabupaten Sumbawa pada Maret 2025 tercatat sebesar Rp492.991 per kapita per bulan. Angka ini naik 3,18 persen dibandingkan Maret 2024 dan meningkat 11,54 persen dibandingkan Maret 2023.

Komoditas makanan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan, dengan beras menyumbang 26,72 persen di perkotaan dan 31,99 persen di perdesaan. Rokok kretek filter menempati posisi kedua, masing-masing 8,00 persen di perkotaan dan 5,50 persen di perdesaan. Untuk komoditas nonmakanan, perumahan menjadi penyumbang terbesar, yakni 9,11 persen di perkotaan dan 11,72 persen di perdesaan, disusul bensin dan pendidikan.

Selain jumlah dan persentase penduduk miskin, indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan juga menunjukkan perbaikan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 1,98 pada Maret 2024 menjadi 1,61 pada Maret 2025. Sementara Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun dari 0,53 menjadi 0,35.

“Penurunan ini menunjukkan bahwa selain jumlah penduduk miskin berkurang, kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan juga semakin mengecil,” jelas Yudi.

Dalam penghitungan kemiskinan, BPS menggunakan pendekatan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar atau basic needs approach, yakni mengukur ketidakmampuan ekonomi penduduk dalam memenuhi kebutuhan dasar makanan dan nonmakanan berdasarkan garis kemiskinan. Data tersebut bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.

Dengan capaian tersebut, sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan terus diperkuat. Guna menjaga tren penurunan kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumbawa secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....