Susila Jaman Now: Boleh Bebas, Asal Jangan Bablas

  • 29 Sep 2026 11:17 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • RRI Mataram menggelar program Tanya Jawab Agama Hindu pada Selasa, 21 September 2026 pukul 21.00–22.00 Wita membahas etika penggunaan teknologi dan media sosial.
  • Program dipandu oleh Presenter I. Gusti Ayu Sri Wulandari, S.I.Kom dengan pembicara Penyuluh Agama Hindu Kota Mataram Arya Dwi Bhaskara, S.T., M.I.Kom.
  • Topik diskusi berfokus pada bagaimana kebebasan di era teknologi harus tetap berada dalam koridor etika dan nilai-nilai dharma dengan tema Susila Jaman Now: Boleh Bebas, Asal Jangan Bablas.

RRI.CO.ID, Mataram – Perkembangan teknologi dan media sosial memberikan ruang kebebasan yang semakin luas bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Namun kebebasan tersebut harus tetap berada dalam koridor etika dan nilai-nilai dharma. Hal itu menjadi pokok bahasan dalam program Tanya Jawab Agama Hindu yang disiarkan RRI Mataram, Selasa (21/9/2026) pukul 21.00–22.00 Wita.

Dialog yang dipandu Presenter I. Gusti Ayu Sri Wulandari, S.I.Kom tersebut menghadirkan Penyuluh Agama Hindu Kota Mataram, Arya Dwi Bhaskara, S.T., M.I.Kom, dengan tema “Susila Jaman Now: Boleh Bebas, Asal Jangan Bablas.”

Dalam pemaparannya, Arya menjelaskan bahwa susila merupakan salah satu kerangka dasar agama Hindu yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, berbagai fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan masih banyak perilaku yang keluar dari aturan dharma.

“Susila terdiri dari dua kata, yaitu su yang berarti baik dan sila yang berarti tingkah laku. Jadi susila adalah tingkah laku yang baik dan benar sesuai dengan dharma serta ajaran suci Weda,” jelas Arya.

Ia menilai tantangan penerapan susila pada era modern semakin kompleks, terutama di kalangan generasi muda yang hidup berdampingan dengan teknologi digital dan media sosial.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah penerapan susila dalam bermedia sosial. Arya mengingatkan bahwa berbagai platform seperti Facebook, Instagram, YouTube, dan media lainnya seharusnya digunakan secara bijak. Ia menyayangkan masih banyak ditemukan komentar maupun unggahan yang mengandung unsur SARA, ujaran kebencian, hingga sindiran yang menyakiti orang lain.

“Perilaku seperti itu jelas menyimpang dari ajaran dharma. Media sosial harus digunakan untuk hal-hal yang positif, bukan untuk menghujat atau merendahkan orang lain,” ujarnya.

Selain itu, Arya juga menekankan pentingnya susila dalam berbicara. Ia mengutip ajaran Niti Sastra Bab V Sloka 3 yang menjelaskan bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar dalam kehidupan manusia.

“Dengan kata-kata kita bisa memperoleh kesejahteraan, tetapi dengan kata-kata pula kita bisa mendapatkan kesengsaraan. Dari kata-kata kita dapat memperoleh sahabat, namun kata-kata juga bisa membawa penderitaan,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan generasi muda agar lebih berhati-hati dalam bertutur kata, baik secara langsung maupun melalui media digital.

“Sekarang bukan hanya mulut yang menjadi harimau, tetapi jari juga bisa menjadi harimau. Apa yang kita tulis dan ucapkan dapat didengar dan dirasakan orang lain, bahkan bisa meninggalkan luka di hati mereka,” tambahnya.

Arya juga menyoroti pentingnya susila dalam pemanfaatan teknologi. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus digunakan untuk kesejahteraan manusia, bukan sebaliknya.

Ia mencontohkan teknologi yang mampu mengelola energi nuklir dan sumber daya lainnya dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara benar. Namun jika disalahgunakan untuk menciptakan alat yang merugikan atau mencelakai orang lain, maka hal tersebut bertentangan dengan ajaran Ahimsa, yakni prinsip tidak menyakiti makhluk lain.

“Teknologi adalah anugerah. Karena itu penggunaannya harus disertai tanggung jawab moral agar tidak menimbulkan kerugian bagi sesama,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Arya juga mengingatkan pentingnya susila dalam pergaulan. Ia mengajak generasi muda untuk bijak memilih lingkungan pertemanan karena pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap karakter dan perilaku seseorang.

“Berteman dengan siapa saja boleh, tetapi tetap harus selektif. Jika terus bergaul dengan lingkungan yang mengarahkan pada perbuatan negatif, lambat laun kita bisa ikut terjerumus,” ungkapnya.

Melalui dialog tersebut, Arya berharap generasi muda Hindu mampu memahami dan menerapkan nilai-nilai susila dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kebebasan yang dimiliki saat ini bukanlah sesuatu yang salah, selama tetap dilandasi tanggung jawab dan tidak melanggar ajaran dharma.

“Boleh bebas, tetapi jangan sampai bablas. Kebebasan harus diimbangi dengan pengendalian diri, etika, dan kesadaran untuk selalu berbuat baik kepada sesama,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....