Jejak Perlawanan Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid Lawan NICA
- 14 Agt 2026 17:37 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Kisah perjuangan TGKH Zainuddin Abdul Majid memimpin gerakan Al-Mujahidin melawan pendudukan NICA di Lombok, hingga diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 2017.
RRI.CO.ID, Mataram: Nama Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid tidak bisa dilepaskan dari sejarah perlawanan rakyat Lombok terhadap pendudukan Belanda. Di balik sosoknya sebagai ulama kharismatik, tersimpan kisah perjuangan fisik yang jarang terekspos ke publik luas.
Dikutip dari catatan sejarah yang dihimpun, Tuan Guru Bajang, sapaan akrab masyarakat Lombok kepadanya saat itu, mendirikan pesantren Al-Mujahidin pada 1934 sebagai wadah pendidikan agama sekaligus basis pergerakan pemuda Sasak. Dari pesantren inilah lahir gerakan perlawanan yang kelak menyatu dengan kekuatan rakyat lain di seluruh Pulau Lombok untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Puncaknya terjadi pada 7 Juli 1946. Adik kandung TGKH Zainuddin, yakni TGH Muhammad Faisal Abdul Majid, memimpin penyerbuan markas militer NICA di Selong. Pertempuran itu berbuah pahit sekaligus heroik: TGH Muhammad Faisal gugur bersama dua santri NWDI, dan ketiganya kini disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Rinjani, Selong, Lombok Timur.
Dilansir dari Kompas.com, sosok Zainuddin lahir di Kampung Bermi, Desa Pancor, Kecamatan Rarang Timur, Lombok Timur, pada 20 April 1908. Selain dikenal sebagai pelopor modernisasi pendidikan Islam di era kolonial, ia juga tercatat aktif melancarkan propaganda anti-Belanda di tengah masyarakat Sasak.
Perjuangan panjang itu akhirnya mendapat pengakuan negara. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 115/TK/Tahun 2017 tertanggal 9 November 2017, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada TGKH Zainuddin Abdul Majid. Penghargaan diserahkan langsung di Istana Negara, Jakarta, dan diterima oleh putri sulung almarhum, Hj Siti Raihun, didampingi Hj Siti Rauhun.
Gelar tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat. Predikat "Bumi Seribu Masjid" yang melekat pada NTB pun kian bermakna, sebab daerah ini akhirnya memiliki putra daerah yang diakui secara nasional atas jasa-jasanya merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Kini, jejak perjuangan itu masih dirawat lewat ziarah rutin ke makam TGKH Zainuddin Abdul Majid di kompleks Mushalla Al Abror, Pancor, yang setiap tahun diikuti pejabat pemerintah, pelajar, hingga para veteran sebagai bentuk penghormatan kepada sang pahlawan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....