Penulis Sasak Jadi Kekuatan Utama Buku Wastra Lombok Bertaraf Internasional
- 29 Jul 2026 16:34 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Tenun NTB
- Buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection
- NTB Mendunia
- SEJARAH TENUN NTB
RRI.CO.ID, Mataram - Keterlibatan penulis lokal menjadi salah satu kekuatan utama dalam penyusunan buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection. Buku yang mengangkat kekayaan wastra Lombok dan Bali tersebut tidak hanya melibatkan akademisi dari berbagai negara, tetapi juga memberikan ruang yang luas bagi peneliti asal Lombok untuk menyampaikan hasil riset dan pengalaman mereka. Hal itu terungkap dalam Program Berugak Kita Pro 4 RRI Mataram yang menghadirkan Kurator Seni Asia Tenggara asal Australia Dr. James Bennett dan Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Dr. Ahmad Nur Alam.
Dr. James Bennett mengatakan sejak awal dirinya berkeinginan agar masyarakat Indonesia menjadi penulis utama sejarah budayanya sendiri. Menurutnya, sudah saatnya narasi tentang kekayaan budaya Nusantara disampaikan oleh orang-orang yang hidup dan tumbuh bersama tradisi tersebut. Karena itu, dalam penyusunan buku ia mengajak sejumlah peneliti, budayawan, dan staf Museum Negeri NTB untuk menjadi penulis sekaligus melakukan penelitian lapangan.
Menurut Bennett, para penulis Sasak tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga terlibat langsung berdialog dengan para penenun, tokoh adat, hingga masyarakat di berbagai daerah di Lombok. Mereka menggali cerita yang selama ini diwariskan secara lisan sehingga menghasilkan tulisan yang kaya akan perspektif lokal.
"Yang menarik sekali, tulisan orang Sasak sangat segar. Mereka melakukan penelitian sendiri dan mencari sendiri kata-kata yang paling tepat untuk menjelaskan kebudayaan Sasak," ujarnya.
Ia menilai, justru karena belum banyak referensi internasional mengenai kain Lombok, para penulis lokal memiliki kebebasan untuk menyusun narasi berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Berbeda dengan daerah lain yang sudah memiliki banyak literatur, penulis Sasak mampu menghadirkan sudut pandang baru yang lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Mereka menulis langsung dari hati, dari jati diri mereka sendiri. Apa yang mereka rasakan, termasuk cerita-cerita dari nenek dan ibu-ibu penenun, itulah yang dituangkan dalam buku ini," kata Bennett.
Kepala Museum Negeri NTB, Dr. Ahmad Nur Alam, menyambut baik pendekatan tersebut. Menurutnya, pelibatan penulis lokal bukan sekadar memperkaya isi buku, tetapi juga menjadi proses pembelajaran bagi generasi peneliti di daerah. Kolaborasi dengan peneliti internasional memberikan pengalaman berharga dalam penyusunan karya ilmiah yang nantinya dapat menjadi referensi dunia mengenai budaya Lombok.
Selain penulis dari Indonesia, buku tersebut juga melibatkan akademisi dari Australia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Namun demikian, setiap tulisan tetap disusun berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan bersama masyarakat. Pendekatan tersebut menjadikan buku tidak hanya kaya akan data akademik, tetapi juga mampu menghadirkan cerita yang autentik mengenai kehidupan para penenun dan perkembangan wastra Lombok dari masa ke masa.
Melalui keterlibatan penulis Sasak, buku Two Islands One Thread diharapkan menjadi contoh bahwa kolaborasi internasional dapat berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas peneliti lokal. Hasilnya bukan hanya sebuah publikasi ilmiah, melainkan juga pengakuan bahwa masyarakat Lombok memiliki kemampuan untuk menuturkan sendiri sejarah dan identitas budayanya kepada dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....