Perempuan dan Laki-laki Tau Samawa, Mitra Sejajar Penjaga Warisan Budaya Sumbawa

  • 29 Jun 2026 15:16 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab satu kelompok atau satu generasi. Budaya lahir, tumbuh, dan diwariskan melalui proses panjang yang berawal dari keluarga, dipelihara masyarakat, lalu diteruskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks budaya Sumbawa, peran perempuan dan laki-laki menjadi dua elemen yang saling melengkapi dalam menjaga warisan leluhur.

Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Beranda Astacita bertajuk “Pengarusutamaan Gender Perempuan dan Laki-laki Dalam Budaya Sumbawa, Berbagi Peran Menjaga Warisan Budaya” yang disiarkan Pro 1 RRI Mataram, Senin 29 Juni 2026.

Pengamat Budaya Sumbawa, Fithiari, SP., MT., dalam kesempatan itu menyebutkan, dalam adat Tau Samawa, perempuan bukanlah sosok yang ditempatkan di belakang atau sekadar pelengkap. Perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses lahir, tumbuh, dan lestarinya budaya Sumbawa.

“Perempuan adalah bagian dari proses budaya itu sendiri. Mereka tidak hanya melengkapi, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pewarisan nilai, tradisi, bahasa, hingga berbagai bentuk warisan budaya lainnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, masyarakat Sumbawa sejak dahulu memandang perempuan dan laki-laki sebagai mitra yang memiliki peran sama pentingnya. Keduanya bekerja dalam ruang yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama, yakni menjaga keberlanjutan budaya.

Fithiari mengibaratkan hubungan tersebut seperti siang dan malam yang saling melengkapi dalam kehidupan. Demikian pula perempuan dan laki-laki yang memiliki kontribusi setara dalam menjaga identitas budaya Tau Samawa.

“Jangan sampai kita mengkotak-kotakkan peran. Ada anggapan laki-laki berada di ruang publik dan perempuan di ruang domestik. Faktanya, perempuan juga berperan di ruang publik, begitu pula laki-laki memiliki peran di lingkungan keluarga. Mereka saling melengkapi,” katanya.

Dalam pelestarian budaya, lanjutnya, tidak ada warisan yang dapat bertahan tanpa keterlibatan kedua pihak. Ketika laki-laki menjalankan peran fisik dalam membangun rumah adat, misalnya, perempuan berkontribusi menyiapkan kebutuhan yang mendukung proses tersebut. Pola yang sama juga terlihat dalam berbagai warisan budaya lainnya, mulai dari kuliner tradisional, seni, pendidikan, hingga ekonomi kreatif berbasis budaya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, pertanyaan mengenai relevansi pembagian peran dalam budaya kerap muncul. Namun menurut Fithiari, masyarakat Sumbawa memiliki nilai-nilai yang memungkinkan perempuan dan laki-laki beradaptasi tanpa meninggalkan akar budayanya.

Ia menegaskan bahwa pengarusutamaan gender bukan berarti menempatkan perempuan dan laki-laki dalam posisi yang saling bersaing, melainkan memastikan keduanya memperoleh kesempatan yang sama untuk berkontribusi sesuai kapasitas dan perannya.

Masyarakat Sumbawa juga tidak mengenal sistem kasta yang membatasi ruang gerak seseorang dalam kehidupan sosial. Meski terdapat kelompok bangsawan dalam sejarah Kesultanan Sumbawa, setiap individu tetap memiliki fungsi dan peran yang saling mendukung.

“Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dalam menjaga budaya. Sejarah Sumbawa menunjukkan bahwa perempuan tidak pernah dibelakangkan. Mereka hadir dan berperan bersama laki-laki dalam menjaga keberlangsungan adat dan tradisi,” jelasnya.

Melalui semangat kebersamaan tersebut, budaya Sumbawa terus bertahan menghadapi perubahan zaman. Perempuan dan laki-laki Tau Samawa membuktikan bahwa warisan budaya dapat tetap hidup ketika dijaga secara bersama-sama, dengan prinsip saling menghargai, melengkapi, dan berbagi peran demi keberlanjutan identitas budaya daerah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....