Krisis Ingatan Sejarah, Pemuda Bima Ditempa Baca Manuskrip
- 30 Apr 2026 15:06 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Bima – Upaya menghidupkan kembali kejayaan literasi masa lalu terus dilakukan. Museum Samparaja Bima untuk pertama kalinya menggelar program pembelajaran membaca manuskrip Kesultanan Bima, yang diikuti generasi muda selama 23 hari penuh.
Ketua Yayasan Museum Samparaja Bima, Dr. Dewi Ratna Muchlisa Mandyara, S.E., M.Hum mengungkapkan kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap minimnya pemahaman sejarah di kalangan generasi muda, khususnya terkait aksara lama Bima yang menggunakan Arab Melayu.
“Karena selama ini anak-anak kita belum banyak yang bisa membaca naskah lama. Padahal, di dalam manuskrip itu tersimpan nilai-nilai penting tentang sejarah, budaya dan lainnya,’’ ujarnya.
Program yang mulai dipersiapkan sejak Mei hingga Juli tersebut akhirnya direalisasikan dalam pelatihan intensif selama 23 hari, sebelum ditampilkan dalam bentuk festival.
‘’Jadi para peserta tidak hanya belajar membaca, tetapi juga melakukan transliterasi naskah-naskah kuno yang sebagian berasal dari era 1880-an,’’ paparnya lagi.
Menariknya, hasil kerja para peserta katanya turut diikutsertakan dalam lomba yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dari ajang tersebut, karya mereka berhasil terpilih dan mendapatkan apresiasi, termasuk dukungan pendanaan.
Menurut Dewi, kegiatan ini juga menjadi bagian dari langkah besar menjadikan manuskrip Bima sebagai warisan dunia. Bahkan, naskah-naskah tersebut telah masuk dalam pengakuan internasional sebagai bagian dari program “Memory of the World”.
Ia berharap, melalui kegiatan ini, semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari aksara dan naskah kuno Bima, sehingga mampu melanjutkan tradisi literasi yang telah hidup sejak masa lalu.
“Dari dulu masyarakat Bima sudah memiliki tradisi literasi yang kuat. Mereka mampu menulis dan membaca naskah. Ini kekayaan luar biasa yang harus kita jaga dan wariskan,” tukasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....