Perempuan Sukerare LombokTengah, Pilar Tradisi Tenun

  • 07 Apr 2026 21:54 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Tenun Khas Lombok Tengah
  • Desa Sukarara Lombok Tengah

RRI.CO.ID, Mataram - Di Desa Sukerare, peran perempuan dalam menjaga tradisi menenun tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Aktivitas ini bukan hanya menjadi rutinitas, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas yang melekat kuat.

Untuk memahami hal tersebut lebih dalam, obrolan bersama Pak Liatera Amin yang akrab disapa Amin memberikan gambaran nyata tentang bagaimana perempuan menjadi pilar utama dalam menjaga warisan budaya ini.

Amin merupakan pengelola Patuh Artshop di Desa Sukerare, Lombok Tengah menyebutkan, dalam kesehariannya, ia tidak hanya mengelola penjualan kain tenun, tetapi juga berinteraksi langsung dengan para penenun yang sebagian besar adalah perempuan. Dari pengalamannya itulah, Amin memiliki pemahaman yang cukup mendalam tentang peran perempuan dalam keberlangsungan tradisi ini.

Saat berbincang santai bersama Beny di artshop yang ia kelola, Amin menjelaskan bahwa hampir semua perempuan di Sukerare memiliki kemampuan menenun. Keterampilan ini bukan sesuatu yang baru dipelajari saat dewasa, melainkan sudah dikenalkan sejak usia dini melalui lingkungan keluarga.

“Kalau di sini, perempuan itu hampir semuanya bisa menenun. Dari kecil mereka sudah lihat, sudah belajar, jadi itu seperti sudah jadi bagian dari hidup mereka,” ujarnya dengan nada yang tenang namun penuh keyakinan.

Menurutnya, proses belajar tersebut berlangsung secara alami tanpa tekanan. Anak-anak perempuan tumbuh dengan melihat ibu atau anggota keluarga lain menenun, lalu mencoba sendiri hingga akhirnya terbiasa. Dari situlah keterampilan ini diwariskan secara turun-temurun tanpa harus melalui pendidikan formal.

“Tidak ada sekolah khusus, tapi rumah itu sudah jadi tempat belajar. Mereka lihat, mereka coba, lama-lama bisa,” tambah Amin.

Dalam percakapan tersebut, Amin juga menekankan bahwa peran perempuan tidak hanya sebatas menjaga tradisi, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam menopang ekonomi keluarga. Hasil tenun yang mereka buat menjadi sumber penghasilan yang cukup berarti bagi kehidupan sehari-hari.

“Banyak yang mengandalkan dari menenun ini. Jadi selain menjaga budaya, mereka juga membantu ekonomi keluarga,” jelasnya.

Peran ini menunjukkan betapa kuatnya posisi perempuan dalam kehidupan masyarakat Sukerare. Ia melihat bahwa perempuan tidak hanya menjalankan peran domestik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budaya sekaligus ekonomi.

Ia menambahkan bahwa menenun juga menjadi ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan kreativitas mereka. Meskipun menggunakan motif yang sama, setiap penenun bisa menghasilkan karya dengan sentuhan yang berbeda.

“Walaupun motifnya sama, hasilnya bisa beda. Karena setiap orang punya cara dan rasa sendiri,” ujarnya.

Lebih jauh, Amin juga menegaskan bahwa tanpa peran perempuan, tradisi menenun di Sukerare mungkin tidak akan bertahan hingga saat ini. Mereka adalah penjaga utama yang memastikan budaya ini tetap hidup dari generasi ke generasi.

“Kalau tidak ada perempuan yang terus menenun, mungkin tradisi ini sudah lama hilang,” katanya.




google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....