Rahasia Lebaran Topat Lombok, Mengapa Pantai Lebih Memikat dari Mal?
- 26 Mar 2026 21:51 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Jika Anda berada di Lombok seminggu setelah Idul Fitri, jangan kaget jika jalanan menuju pesisir pantai macet total. Bagi masyarakat Sasak, perayaan Idul Fitri 1 Syawal hanyalah "pembuka". Puncaknya justru ada pada Lebaran Topat yang jatuh pada 8 Syawal. Ribuan orang tumpah ruah ke pantai, seolah magnet samudra jauh lebih kuat ketimbang gemerlap mal atau destinasi wisata modern lainnya.
Fenomena ini bukan sekadar piknik biasa, melainkan tradisi yang memadukan spiritualitas, sejarah, dan kegembiraan komunal yang tak tergantikan.
Antara Ziarah dan Deburan Ombak
Pusat keramaian Lebaran Topat selalu berhimpit dengan keberadaan makam-makam keramat di pesisir, seperti Makam Loang Baloq dan Makam Batu Layar. Alurnya baku: warga datang berziarah (nyekar), berdoa, lalu turun ke bibir pantai untuk makan bersama keluarga besar.
H. Mashuri, salah satu tokoh masyarakat di Lombok Barat, menjelaskan bahwa pemilihan pantai berkaitan erat dengan simbol rasa syukur dan silaturahmi. Pantai dianggap sebagai ruang publik yang luas dan gratis, sehingga mampu menampung ribuan warga yang berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi setelah menyelesaikan puasa sunnah Syawal selama enam hari.
"Pantai ini simbol rasa syukur kami. Ia adalah ruang publik yang luas dan gratis, sehingga mampu menampung ribuan warga yang berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi setelah menyelesaikan puasa sunnah Syawal selama enam hari. Di sini tidak ada sekat, semua orang bisa duduk bersama di atas pasir yang sama," jelasnya dengan antusias.
"Begibung": Makan Semeja dengan Alam
Bagi warga lokal, makan di pantai memberikan ruang "merdeka" yang tidak didapatkan di tempat wisata lain. Tradisi Begibung (makan bersama dalam satu nampan) memerlukan ruang luas untuk menggelar tikar dan menaruh bakul-bakul ketupat yang dibawa dari rumah.
"Kalau di mal atau taman kota, kita merasa dibatasi ruang dan aturan. Tapi di pantai, kami bebas. Anak-anak berenang, yang tua bercerita sambil makan pelecing kangkung di bawah pohon kelapa. Rasanya lebih plong," ujar Siti Rohani, seorang ibu rumah tangga asal Narmada yang setiap tahun setia memboyong keluarganya ke Pantai Senggigi.
Ekonomi Rakyat yang Berputar di Pasir
Tak hanya soal tradisi, Lebaran Topat di pantai juga menjadi berkah bagi pedagang kecil. Dari penyewaan ban, penjual jagung bakar, hingga asongan mainan, semuanya meraup untung berkali-kali lipat dibanding hari biasa.
Inilah yang membuat Lebaran Topat terasa lebih "meriah" secara sosial. Jika Idul Fitri bersifat privat di dalam rumah, Lebaran Topat adalah pesta rakyat yang inklusif, siapa saja boleh bergabung di atas pasir yang sama, tanpa sekat kelas sosial.
Pantai bagi masyarakat Lombok bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang tamu raksasa tempat doa, tawa, dan ketupat menyatu. Selama makam keramat masih dikunjungi dan tradisi Begibung tetap dijaga, maka pesisir Lombok akan selalu menjadi saksi bisu kemeriahan yang melampaui Idul Fitri itu sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....