MAS Menyatukan Pemikiran Liar dan Polarisasi dalam Satu Sistem Visi
- 07 Mar 2026 09:25 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Majelis Adat Sasaq (MAS) tidak mau berpangku dan berdiam diri dalam kesunyian tafakkur, justru di bulan suci Ramadan 1447 H. Menggagas untuk mempersatukan pemikiran liar, berserakan yang belum tertampung dalam wadah ilmiah, upaya ditempuh yang disatukan dalam wadah diskusi bertajuk “Tradisi tradisi Puasa Muslim Sasak: Ritual dan Habitus Dalam Kajian Situs dan Pernaskahan," Jumat, 6 Maret 2026, tidak saja terbatas dalam tatap muka tetapi juga menggunakan teknologi masa kini Platform Digital Zoom.
Tiga Narasumber yang tidak diragukan lagi kemampuan dan intelektualitas dalam diskusi forum ilmiah adalah DR. HL. Sajim Sastrawan,SH,MH, Pengamat Hukum Tata Negara, Prof. DR. Jamaludin, MSi Akademisi Ahli Sejarah UIN Mataram, dan Praktisi Dunia Birokrasi HK. HL.Winengen,MM. Mereka melempar pemikiran sesuai analisis dan kajian tentang simbol dan tradisi, sejarah Muslim Sasaq dalam berpuasa.
Nilai nilai kearifan lokal yang menjadi tradisi Muslim Sasaq dalam menjalankan puasa sehari hari, tidak pernah melepaskan diri tetapi selalu bersatu, belajar dan menganalisis dengan fenomena alam di sekitar lingkungan sehingga dapat mengetahui hal hal penting untuk sebuah ritualitas dan presisi seperti saat berbuka puasa maupun sahur.
“Hanya dengan prilaku ayam, orang tua kita dulu, dapat mengetahui saat berbuka puasa," kata Sajim Sastrawan yang melanjutkan penjelasannya, ayam kalau sudah naik di peraduannya, biasa menggunakan pohon, maka itu menjadi pertanda, bahwa malam segera tiba. Demikian juga dengan ayam berkokok, ketika menjelang subuh menjadi tanda alam bahwa harus sahur, karena sudah menjelang subuh.
“Dahulu kan tidak ada jam tangan, radio, jadi membaca alam dengan cermat menjadi sinyal bahwa waktu berbuka dan sahur, telah tiba,” jelas Miq Sajim memaparkan.
Hal lain yang dikhawatirkan sehingga memperuncing jarak interaksi sosial adalah saling memberi dan berbagi ketika memasuki awal puasa. Orang tua kita dulu saling memberi makanan meski sepiring nasi bersama lauk pauknya, walau dalam tiga rumah. “Dulu ada roah, ini ajang silaturrahim antar sesama Muslim Sasaq” kata Miq Sajim sambil menambahkan tradisi saling memperkuat solidaritas sosial, selanjutnya kearifan local mengenai Maleman, tradisi yang membakar Lampu (Dile Jojor) dengan bahan baku buah jarak dan Jamplung.
Upacara ini dilakukan ketika masyarakat Muslim Sasaq menggelar acara Nuzulul Quran. Lampu lampu secara filosofis membuka tabir kegelapan menjadi terang benderang dan cahaya ini juga simbol Malaikat memberikan keberkahan di Bumi. Dan banyak lagi tradisi Muslim Sasaq guna menjaga keseimbangan hubungan secara horizontal antar sesame manusia dan Lingkungan hubungan vertical dengan Sang Pencipta.
Prof Dr. Jamaludin Pemucuk MAS yang juga Dosen di UIN Mataram berikhtiar sungguh sungguh berbagi ilmu dari dimensi keberadaan Manuskrip yang mempertegas posisi Bangsa Sasaq dalam beribadah berlinier dengan hukum Fiqih dalam agama. Muslim Sasaq melakukan aktivitas ritual seperti puasa didasarkan atas naskah manuskrip yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Jamaludin mencontohkan Manuskrip Samarkandi yang beredar di Lombok Utara maupun Lombok Tengah, sekitar abad 16-18, dalam naskahnya mempertegas tentang Mazhab yang dianut erat kaitannya dengan Mazhab Imam Syafii yang lebih dikenal dengan Ahlu Sunnah Waljamaah.
Menurut Jamal, naskah naskah ini, isi ajarannya, tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Secara Ilmiah sebenarnya Bangsa Sasaq sejak dulu sudah menganut paham Islam. Ada 28 naskah yang ditemukan di Selaparang dari 38 naskah yang ditemukan, lima diantaranya banyak membahas tentang Fiqih- Aqidah. Fakta ini diperkuat dengan naskah lontar Indarjaya, bahkan melebar kepada ajaran Tauhid, Tasawuf.
Pembuktian tentang naskah lontar pada abad 16 tidak saja membahas tentang Fiqih tetapi melebar kepada pemahaman tentang Tauhid, (Ke-Esaan Tuhan Allah SWT) berkembang kepada ajaran Tasawuf. Fenomena tentang ajaran Tauhid maupun Tasawuf ini, ditemukan pada Makam Nyato Lombok Tengah. Di Areal makam, bangunan utama, memiliki tiang 20, ini mempertegas tentang sifat 20, konsep dasar ajaran Tauhid. Dijabarkan juga tentang Huruf Alif, Lam, Ha dalam kalimat Alhamdulillah, dimaknakan sebagai symbol pelaksaan pada Sholat Lima Waktu, maulai Subuh hingga Isya.
Secara umum sangat menarik kajian Ritual kaum Muslim Sasaq dari perspektif masa lampau yang ternyata berlinier dengan ajaran Agama yang didalami kini. Harapan kedepan Badan Pelaksana MAS dibawah kendali Lalu Winengen, semakin marak dan berbobot serta berkapasitas, sehingga Sasaq tidak saja hebat dilangit, tetapi berkarakter dan terpuji di darat sesuai Sesenggak Sasaq “Aik Meneng Empak Bau, Tunjung Tilah”.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....