Doa Bola, Trasisi Masyarakat Bima Menyambut Ramadan

  • 17 Feb 2026 19:02 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Bima - Ada satu tradisi umat Islam di Bima, ketika akan memasuki bulan puasa atau ramadan. Tradisi itu adalah “Doa Bola” atau disebut juga “Doa Wura Bola” atau bulan Sa’ban dalam kalendar hijriah.

Sepanjang Wura Bola masyarakat Bima akan menggelar doa dan zikir. Mereka yang berhajat mengundang tetangganya, kerabat, tokoh masyarakat dan tokoh agama hadir.

Doa Bola dipimpin oleh seorang guru atau tokoh agama atau tetua di kampung. Usai doa dan zikir, tetangga dan kerabat yang diundang akan disuguhkan makanan dan juga “Jangko” atau bingkisan untuk dibawa pulang.

Pemerhati Budaya dan Linguistik Bima, Muhamad Yunus menjelaskan, di Bima, bulan sya'aban atau bulan kedelapan dalam kalender Hijriah, dikenal sebagai Wura Bola.

Secara sederhana, wura artinya bulan. Bola dapat diberi arti bangun.

“Apabila diselami lebih dalam, jadinya begini. Dari sisi hitungan pergerakan bulan langit (wura langi), peristiwa naik atau terbitnnya Wura atau bulan, di langit nampak dimulai dari bentuk terkecil, kemudian membesar membentuk bulan sabit, hingga menjadi bulat penuh atau kenal sebagi bulan purnama, lalu mengecil lagi. Hal ini menggambarkan pergerakan peristiwa alam dan benda-benada spiritual serta pemaknaannya untuk bagaimana mengisi dan merayakan tradisi wura bola,” katanya, Selasa 17 Februari 2026.

Terkai frasa bola, kata Yunus, lazimnya kata bola dialamatkan pada peristiwa manusia yang bangun dari tidur atau disebut bola maru. Ada juga yang menyebut bangun tidur itu dengan sebuatan tu'u maru.

"Namun pengungkapan keduanya saling menenun makna,” ujarnya.

Bola maru ditandai dengan mata yang terbuka (mada ma kandoa), dan kesadaran (bae ade) yang penuh seluruh, hadir utuh pada segenap diri (samena na weki) yang terlelap dari tidur dan istirahat panjangnya.

“Dari sini, warisan tradisi Wura 'Bola dapat dimaknai, Wura Bola diandaikan sebagai bulan dimana manusia terbangun (bola) , sadar (bae ade), lalu membuka diri melakuan persiapan lahir batin, serta sepenuh hati membukitkan dan merimbunkan kebaikan, sebagai bekal memasuki bulan ramadhan yang tinggi lagi mulia,” jelasnya.

Wura bola menjadi pengingat atas peristiwa naik atau diangkatnya amal perbuatan manusia setahun penuh ke hadapan Tuhan Allah SWT. Dirayakan melalui tradisi do'a wura bola dan diperkaya dengan amalan-amalan lainnya.

“Pilihan waktu do'a dan ragam amalan biasanya pada bilangan penanggalan yang kecil menunuju ke penanggalan besar (dari tanggal muda-tua). Berharap kehidupannya beranjak naik, meningkat, membukit dan lebih baik lagi dan kian makmur ke depannya,” lanjutnya.

Bagi para petani dan masyarakat Bima umumnya, wura bola menandai waktu amalan sampai ke hadapan Tuhan. “Sekaigus sebagai penanda dan pengingat hitungan waktu untuk kembali bertani di musim tanam berikutnya, yang diyakini dapat memberi arah yang diridhai Tuhan YME untuk meraih keberkahan, keberlimpakan rezeki dan kemakmuran lahir batin yang akan sampai kepadanya dan keluarganya dan juga sampai ke hadapan Tuhan Allah SWT,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....