Tafsir QS. Al-Furqan Ayat 45-47, Fenomena Alam sebagai Bukti Kekuasaan Allah
- 03 Sep 2024 19:21 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram : Dalam kajian subuh yang diselenggarakan di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center NTB pada Selasa (3/9/2024), TGH. Satriawan, Lc., MA membahas tafsir QS. Al-Furqan ayat 45-47. Dalam kajian tersebut, beliau mengupas makna syukur dan kekuasaan Allah melalui fenomena alam.
"Syukur itu tampak di lisan dengan mengucapkan 'Alhamdulillah', memuji Allah dan menyanjung-Nya. Di dalam hati, kita menghadirkan rasa nikmat, yang kemudian melahirkan rasa cinta kepada-Nya. Sementara dalam perilaku, syukur itu terwujud dengan semakin taat dan patuh kepada Allah. Kita lihat ciptaan Allah, diciptakan bagi manusia, untuk memudahkan mengelola bumi," jelas TGH. Satriawan
Dalam ayat-ayat tersebut, dijelaskan enam fenomena alam yang menjadi bukti kekuasaan dan anugerah Allah kepada makhluk-Nya. Keenam fenomena itu adalah suasana teduh, terjadinya malam dan siang, kisaran angin, turunnya hujan, tidak bercampurnya air tawar dan air asin, serta terciptanya manusia dari air mani.
"Apakah engkau, wahai Rasul, memperhatikan penciptaan Tuhanmu dengan mata kepala atau pikiranmu? Begitulah besar kekuasaan Tuhanmu dan anugerah-Nya kepada makhluk-Nya," ujar TGH. Satriawan, mengutip ayat tersebut. "Allah memanjangkan dan memendekkan bayang-bayang atau keteduhan, yaitu situasi antara terang benderang dan gelap, dari terbit fajar sampai terbit matahari, dan waktu setelah matahari terbenam sebelum gelapnya malam."
“Bayangan juga media pembelajaran untuk kita," Lebih lanjut, TGH. Satriawan menjelaskan fenomena alam berikutnya, dalam Al Quran digambarkan "Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami sesuai dengan kebijakan Kami, sedikit demi sedikit. Tidak sekaligus, sesuai dengan kecepatan gerakan matahari yang demikian cermat dan terukur."
"Cara mengenal Allah dari ayat-ayat-Nya, yaitu Al-Quran, harus menghasilkan makrifah. Kemudian melihat ayat-ayat Allah yang kauniyah, yang kita lihat dalam kehidupan kita. Inilah fenomena alam yang harus direnungkan oleh manusia, bahwa di balik semua gerakan alam ini ada zat yang sangat berkuasa, yaitu Allah," jelasnya.
Beliau juga menyoroti penciptaan malam sebagai waktu untuk istirahat dan siang sebagai waktu untuk berusaha. "Dialah yang menjadikan malam yang gelap gulita untukmu, wahai sekalian manusia, sebagai pakaian yang sama-sama menutupi badanmu, dan Dia menjadikan tidur untuk istirahatmu dari semua kegiatan. Agar jika kamu bangun di pagi hari, badanmu kembali segar bugar. Dan Dia juga menjadikan siang terang benderang untuk bangkit berusaha mencari rezeki buat kehidupanmu dan keluargamu."
TGH. Satriawan menutup kajian dengan mengingatkan jamaah bahwa semua keajaiban alam ini tidak mungkin terjadi tanpa kekuasaan Allah. "Terciptanya siang dan malam karena perputaran bumi mengitari matahari, demikian pula matahari yang terus berputar dan berjalan pada garis edarnya. Semua keajaiban alam ini tidak ada yang sanggup melakukannya kecuali Allah," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....