Tilakkhana Jadi Pedoman Umat Buddha Memahami Hakikat Kehidupan

  • 02 Okt 2026 14:52 WIB
  •  Mataram

RRI. CO. ID, Mataram – Tiga corak kehidupan dalam ajaran Buddha atau Tilakkhana menjadi topik pembahasan dalam program Tanya Jawab Agama Buddha yang disiarkan melalui Pro 1 RRI Mataram, Selasa 29 September 2026 malam. Acara yang berlangsung pukul 21.00–22.00 Wita itu menghadirkan narasumber Yana Sugata, S.Pd. dan dipandu presenter Mayani, S.Pd.B.

Dalam dialog tersebut, Yana Sugata menjelaskan bahwa Tilakkhana merupakan ajaran mendasar dalam agama Buddha yang menggambarkan tiga corak umum kehidupan, yakni Anicca (ketidakkekalan), Dukkha (ketidakpuasan atau penderitaan), dan Anatta (tanpa inti diri yang kekal).

Menurutnya, pemahaman terhadap Tilakkhana sangat penting karena membantu umat Buddha memahami realitas kehidupan yang selalu berubah. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menginginkan hal-hal yang menyenangkan dapat bertahan selamanya, seperti kesehatan, masa muda, maupun kehadiran orang-orang yang dicintai.

“Terkadang kita menginginkan sehat terus, muda terus, dan orang-orang yang kita cintai selalu berada di sisi kita. Namun kenyataannya tidak demikian,” ujar Yana Sugata.

Ia menambahkan, Sang Buddha mengajarkan bahwa banyak penderitaan berakar dari kesalahpahaman terhadap kenyataan hidup. Ketika seseorang tidak menerima perubahan sebagai bagian alami kehidupan, maka kekecewaan dan penderitaan akan mudah muncul.

Karena itu, Tilakkhana dapat dipahami sebagai peta kenyataan yang membantu seseorang melihat kehidupan secara lebih bijaksana. Dengan memahami tiga corak kehidupan tersebut, batin menjadi lebih tenang, tidak mudah terguncang oleh perubahan, serta mampu menghadapi berbagai peristiwa dengan sikap yang lebih seimbang.

Dalam pembahasannya, Yana Sugata merujuk pada berbagai sumber ajaran Buddha, termasuk sutta-sutta dalam Tripitaka Pali, syair-syair Dhammapada, serta Paritta Suci. Hal ini dilakukan agar pemahaman mengenai Tilakkhana tetap sesuai dengan ajaran Buddha dan tidak hanya berdasarkan opini atau penafsiran pribadi.

Ia juga menjelaskan bahwa konsep Tilakkhana kerap ditemukan dalam pembacaan Paritta Suci, terutama pada upacara-upacara tertentu seperti Avamangala. Ajaran tersebut mengingatkan umat tentang sifat ketidakkekalan dan penderitaan yang merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Melalui pemahaman yang benar terhadap Tilakkhana, umat Buddha diharapkan dapat menerima perubahan dengan lebih lapang, mengurangi keterikatan yang berlebihan, serta menumbuhkan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....