Oyster, Seafood Viral yang Lezat dan Kaya Nutrisi

  • 29 Sep 2026 08:57 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Oyster atau tiram menjadi salah satu hidangan seafood yang banyak menarik perhatian pencinta kuliner. Bentuknya yang khas, rasa gurih dengan sentuhan asin laut, serta cara penyajiannya yang beragam membuat oyster kerap hadir sebagai menu istimewa, baik disantap mentah maupun setelah dimasak.

Oyster merupakan kelompok moluska bercangkang dua atau bivalvia yang hidup di perairan asin dan payau, terutama di teluk, muara, serta kawasan yang dipengaruhi pasang surut. Hewan ini memperoleh makanan dengan menyaring partikel dan plankton dari air menggunakan sistem filternya.

Yang menarik, oyster sudah menjadi bagian dari makanan manusia sejak ribuan tahun lalu. Bukti arkeologis berupa tumpukan cangkang menunjukkan masyarakat telah mengonsumsi oyster sejak masa lampau. Bahkan, budidaya oyster telah dikenal sejak zaman Romawi di kawasan Barat dan telah dilakukan di China jauh sebelum era Masehi.

Di meja makan, oyster memiliki karakter rasa yang cukup unik. Cita rasanya dapat berbeda bergantung pada spesies, lokasi perairan, dan kondisi tempat budidayanya. NOAA menyebut rasa Pacific oyster dapat berada pada rentang manis hingga gurih-asin atau briny.

Oyster dapat disajikan dalam berbagai bentuk. Ada yang disantap langsung dari cangkangnya dengan tambahan perasan lemon, saus cocktail, horseradish, atau mignonette. Ada pula yang diolah dengan cara dipanggang, digoreng, maupun dimasak menggunakan berbagai bumbu.

Dari sisi gizi, oyster juga memiliki sejumlah kandungan penting. Salah satu mineral yang menonjol adalah zinc. CDC menyebut oyster sebagai salah satu makanan yang memiliki kandungan zinc sangat tinggi. Mineral ini berperan dalam metabolisme sel, mendukung sistem kekebalan tubuh, membantu proses penyembuhan luka, serta mendukung fungsi indera pengecap.

Selain zinc, oyster juga dikenal sebagai sumber protein, vitamin, dan mineral. NOAA mencatat Pacific oyster memiliki kandungan omega-3 dan zat besi serta relatif rendah lemak jenuh.

Menariknya lagi, oyster tidak hanya memiliki nilai sebagai bahan pangan. Di alam, hewan ini juga berperan dalam ekosistem perairan. Sebagai filter feeder, oyster membantu menyaring air dan dapat menyediakan habitat bagi berbagai organisme lain ketika membentuk terumbu atau oyster reef.

Karena itu, budidaya oyster menjadi salah satu bagian dari sektor akuakultur. Oyster dapat dibesarkan menggunakan berbagai metode, seperti di dasar perairan, dalam kantong atau keranjang, maupun dengan sistem yang digantung pada rak dan tali. Setelah larva menempel pada permukaan tertentu, fase tersebut dikenal sebagai spat dan kemudian dikembangkan hingga mencapai ukuran konsumsi.

Namun, popularitas oyster juga perlu diikuti perhatian terhadap cara konsumsinya. Oyster mentah atau setengah matang memiliki risiko menyebabkan penyakit bawaan makanan. CDC mengingatkan bahwa mengonsumsi kerang mentah atau kurang matang dapat meningkatkan risiko penyakit, sementara memasaknya hingga matang dapat mengurangi risiko tersebut.

Hal ini penting karena oyster dapat terlihat, berbau, dan terasa normal meskipun telah terkontaminasi mikroorganisme tertentu. FDA juga pernah mengeluarkan peringatan terkait oyster mentah yang berpotensi terkontaminasi norovirus.

Di balik tren kuliner dan tampilannya yang mewah, oyster ternyata menyimpan cerita panjang tentang makanan, budaya, budidaya, hingga ekosistem laut. Tak heran jika seafood bercangkang ini tetap memiliki tempat tersendiri di dunia kuliner, sekaligus menjadi salah satu hasil laut yang menarik untuk terus dikenali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....