"Ketika Kain Tradisional Menjadi Medium Diplomasi Budaya"
- 25 Sep 2026 06:59 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID Mataram,Kain tradisional tidak hanya berbicara tentang motif, warna, dan keindahan visual. Di balik setiap helai kain, tersimpan cerita mengenai sejarah, identitas, nilai sosial, hingga cara hidup masyarakat yang mewariskannya. Karena itu, kain tradisional kini semakin dipandang sebagai salah satu medium penting dalam memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada dunia. Tema tersebut tertuang dalam Program Berugak Kita RRI Pro 4 Mataram bertajuk “Two Islands One Thread: Ketika Kain Tradisional Menjadi Medium Diplomasi Budaya”, yang berlangsung Senin, 21 September 2026 dan Dr. Ahmad Nuralam, S.H., M.H., Kepala Museum Negeri NTB sebagai Narasumbernya.
Tema ini menjadi menarik karena kain tradisional tidak lagi hanya ditempatkan sebagai benda yang digunakan dalam upacara adat atau busana sehari-hari. Kain juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan suatu daerah, masyarakat, sejarah, dan nilai-nilai budaya kepada masyarakat yang lebih luas.
Kain sebagai Rekam Jejak Peradaban
Setiap daerah memiliki tradisi tekstil dengan karakter yang berbeda. Perbedaan tersebut terlihat dari teknik pembuatan, bahan, warna, motif, fungsi, hingga cerita yang melekat di dalamnya.
Di Lombok dan Bali, misalnya, tradisi kain berkembang dalam lingkungan budaya yang memiliki sejarah panjang. Kain menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, mulai dari kegiatan adat, keagamaan, kehidupan sosial, hingga berbagai perayaan penting.
Karena itu, ketika sebuah kain tradisional diperkenalkan kepada masyarakat dari daerah atau negara lain, yang sebenarnya ikut diperkenalkan bukan hanya produknya. Ada sejarah, pengetahuan, keterampilan, serta identitas masyarakat yang ikut dibawa bersama kain tersebut.
Inilah yang kemudian membuat kain tradisional memiliki potensi sebagai medium diplomasi budaya.Diplomasi budaya pada dasarnya tidak selalu harus dilakukan melalui forum resmi atau pertemuan antarnegara. Pertukaran budaya juga dapat berlangsung melalui karya seni, musik, makanan, bahasa, kerajinan, hingga tekstil tradisional.Kain memiliki keunggulan tersendiri karena dapat menjadi benda yang membawa cerita. Ketika seseorang melihat sebuah kain dengan motif tertentu, muncul kesempatan untuk menjelaskan siapa yang membuatnya, bagaimana proses pembuatannya, apa makna motifnya, dan dalam konteks apa kain tersebut digunakan.
Dengan demikian, kain dapat menjadi media komunikasi budaya yang cukup kuat.Sebuah kain dari Lombok, misalnya, dapat membawa cerita tentang masyarakat Sasak. Begitu pula kain dari Bali dapat memperkenalkan berbagai aspek kehidupan dan tradisi masyarakat Bali.Pertemuan antara kain dan masyarakat dari berbagai daerah kemudian menciptakan ruang dialog. Dari sinilah budaya tidak hanya dilihat, tetapi juga dipahami.Gagasan “Two Islands One Thread” memperlihatkan bagaimana Lombok dan Bali dapat dilihat melalui satu benang merah, yaitu kekayaan tradisi tekstil yang berkembang di kedua wilayah tersebut.Meskipun memiliki karakter budaya masing-masing, kain tradisional Lombok dan Bali sama-sama menunjukkan bahwa keterampilan menenun merupakan bagian dari pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.
Di balik proses menenun terdapat ketekunan, ketelitian, kreativitas, dan pengetahuan yang tidak selalu dapat diperoleh hanya melalui buku. Banyak keterampilan tekstil tradisional justru diwariskan melalui proses belajar langsung dari generasi sebelumnya.Karena itu, keberadaan kain tradisional juga berkaitan erat dengan keberlangsungan pengetahuan budaya.Dalam konteks pelestarian, museum memiliki posisi penting. Museum bukan hanya tempat menyimpan benda-benda lama, tetapi juga ruang untuk menjaga informasi dan cerita yang melekat pada benda tersebut.
Kain tradisional yang berada dalam koleksi museum dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi sekarang. Masyarakat tidak hanya dapat melihat bentuk fisiknya, tetapi juga mempelajari latar belakang, teknik pembuatan, fungsi, serta konteks budaya yang menyertainya.Di sinilah pentingnya dokumentasi.Sebuah kain mungkin dapat bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun, tetapi cerita mengenai pembuatnya, teknik pembuatannya, atau fungsi tertentu dari kain tersebut bisa saja hilang jika tidak dicatat dan diwariskan.Karena itu, pelestarian kain tradisional perlu berjalan bersama dengan pelestarian pengetahuan yang ada di baliknya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....