Kenapa Kita Ikut Sakit Hati Lihat Sahabat Berdamai?
- 12 Agt 2026 20:34 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Secara ilmiah, rasa sakit hati melihat sahabat akrab lagi dengan orang yang pernah menyakitinya bukan tanda posesif, tapi bisa dijelaskan lewat teori psikologi.
RRI.CO.ID, Mataram - Ada momen yang bikin dada sesak tanpa alasan yang benar-benar salah: melihat sahabat sendiri kembali akrab, bahkan tertawa lepas, dengan orang yang dulu membuatnya menangis semalaman. Bukan kita yang disakiti, tapi kenapa rasanya seperti ikut terluka?
Fenomena ini ternyata bukan sekadar baper atau posesif berlebihan. Ilmu psikologi punya beberapa kerangka teori yang bisa menjelaskan kenapa emosi orang ketiga dalam sebuah konflik justru terasa nyata dan sulit dikendalikan.
Empati yang Berubah Jadi Beban Emosional Sendiri
Salah satu penjelasannya datang dari model empati yang dikembangkan psikolog C. Daniel Batson pada 1991. Dilaporkan dari kajian Prof. Rudy C. Tarumingkeng soal empati dan simpati, model Batson menyebut empati memicu munculnya empathic concern, yakni respons emosional yang membuat seseorang seolah ikut merasakan penderitaan orang lain, bukan sekadar menyadarinya dari jauh.
Ketika seorang teman menampung cerita sedih sahabatnya secara mendalam, ia tidak cuma "mendengar". Secara emosional, ia turut menyerap kemarahan dan luka itu sebagai miliknya sendiri. Persoalannya, proses penyembuhan dari luka titipan ini sering kali tidak berjalan seiring dengan pemilik luka aslinya. Saat si sahabat sudah mulai berdamai dengan keadaan, si "penampung emosi" belum tentu berada di titik yang sama.
Konflik antara Apa yang Diyakini dan Apa yang Terjadi
Teori disonansi kognitif dari psikolog Leon Festinger juga relevan menjelaskan situasi ini. Disonansi kognitif adalah kondisi tidak nyaman yang muncul ketika ada dua keyakinan atau kenyataan yang saling bertabrakan dalam pikiran seseorang.
Dalam kasus ini, ada keyakinan "orang itu sudah menyakiti sahabatku, seharusnya dijauhi", tapi kenyataannya sahabat sendiri tetap berhubungan baik dengannya. Dua hal yang bertentangan ini memicu ketegangan batin, sehingga otak secara otomatis mencari cara untuk meredakannya — entah dengan ikut marah pada keputusan sahabatnya, atau perlahan mencoba memahami alasan di baliknya.
Memaafkan Itu Proses Personal, Bukan Kesepakatan Bersama
Poin penting lain yang sering terlupakan adalah bahwa memaafkan bukan keputusan yang bisa disinkronkan antar dua orang sekaligus. Dilansir dari kajian Universitas Tarumanagara, psikolog Robert Enright dan Richard Fitzgibbons menjelaskan proses memaafkan melalui empat tahap: uncovering (menggali kembali rasa sakit), decision (memutuskan untuk memaafkan), working on forgiveness (berproses menuju pemaafan), hingga deepening (memperdalam makna dari proses tersebut).
Karena memaafkan adalah proses personal, dua orang yang sama-sama terluka oleh satu peristiwa bisa saja berada di tahap yang berbeda. Sahabat yang disakiti mungkin sudah sampai pada tahap "deepening" dan memilih berdamai secara profesional, sementara temannya yang ikut menampung cerita itu, karena tidak mengalami langsung proses penyembuhannya, masih terjebak di tahap "uncovering" — terus mengorek ulang rasa sakit yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.
Rasa Ingin Adanya Keadilan yang Tak Kunjung Terasa
Ada juga dorongan psikologis yang dikenal sebagai kebutuhan akan dunia yang adil (just-world belief), yaitu keyakinan bahwa orang yang berbuat salah semestinya menerima konsekuensi setimpal. Ketika konsekuensi itu tak kunjung terlihat, apalagi pihak yang disakiti justru terlihat baik-baik saja, muncul rasa gelisah karena "keadilan" yang diharapkan tidak pernah benar-benar tercapai.
Perasaan ini wajar dan manusiawi, sebagaimana emosi lain yang berfungsi memberi sinyal bahwa ada nilai-nilai personal yang sedang tersentuh. Yang penting dipahami, ikut merasa sakit hati bukan berarti hak untuk memaksakan sikap yang sama kepada orang yang benar-benar mengalaminya. Setiap orang punya jalan dan waktu berbeda untuk berdamai dengan lukanya sendiri, termasuk memilih untuk tetap profesional dengan seseorang yang pernah menyakitinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....