Bulan Safar Punya Keutamaan, Umat Islam Diajak Tinggalkan Mitos Kesialan
- 21 Jul 2026 07:42 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah. Meski tidak memiliki keutamaan seperti bulan Muharam, Safar tetap menyimpan nilai dan hikmah yang penting bagi umat Islam. Hal tersebut disampaikan TGH. Saiful Bahrain, Lc.,M.A., dalam program Renungan Senja RRI Mataram, Selasa 21 Juli 2026.
Menurut TGH. Saiful Bahrain, kata Safar secara bahasa berarti "kosong". Penamaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada masa dahulu yang meninggalkan rumah mereka dalam keadaan kosong karena pergi berdagang atau berperang.
"Pada masa Rasulullah SAW juga terjadi sejumlah peristiwa penting di bulan Safar, di antaranya Perang Al-Abwa' atau Waddan sebagai ekspedisi pertama Rasulullah SAW, Ekspedisi Bi'r Ma'unah, serta beberapa peristiwa lain yang menjadi bagian dari perjalanan dakwah Islam," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa anggapan bulan Safar sebagai bulan sial tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Justru Rasulullah SAW meluruskan keyakinan tersebut melalui sabdanya:
"Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada tathayyur (anggapan sial), tidak ada burung hantu pembawa kesialan, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurutnya, hadis tersebut menjadi penegasan bahwa seorang Muslim tidak boleh mempercayai mitos atau cerita-cerita yang mengaitkan bulan Safar dengan musibah atau kesialan.
Selain itu, bulan Safar juga menjadi momentum untuk menumbuhkan sikap optimistis. TGH. Saifil Bahrain menjelaskan bahwa pada masa jahiliah, masyarakat Arab kerap mengubah-ubah penanggalan bulan haram (an-nasi') sehingga menganggap Safar sebagai pengganti Muharam. Islam kemudian datang meluruskan praktik tersebut dan mengajarkan agar umat Islam tetap berpegang pada ketetapan kalender Hijriah tanpa dipengaruhi keyakinan yang keliru.
Ia juga menyampaikan bahwa tidak ada larangan menikah pada bulan Safar. Bahkan, dalam sejarah Islam disebutkan Rasulullah SAW menikahkan putrinya, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, dengan Ali bin Abi Thalib pada bulan Safar. Peristiwa tersebut menjadi salah satu dalil bahwa bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan, melainkan tetap menjadi waktu yang baik untuk melaksanakan berbagai amal saleh, termasuk pernikahan.
Di akhir tausiahnya, TGH. Saiful Bahrain mengajak umat Islam untuk mengisi bulan Safar dengan memperbanyak ibadah, amal kebaikan, serta menjauhi berbagai bentuk tahayul dan keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
"Jangan sampai mitos membuat kita meninggalkan amal saleh. Dalam Islam, semua hari dan bulan adalah baik apabila diisi dengan ketakwaan kepada Allah SWT," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....