Kejujuran Jadi Sifat Mulia yang Wajib Dimiliki Setiap Muslim

  • 09 Jun 2026 09:52 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Kejujuran merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat dijunjung tinggi dalam ajaran Islam. Hal tersebut disampaikan TGH Saiful Bahrain, Lc., M.A. dalam program Renungan Senja yang disiarkan RRI, Selasa 9 Juni 2026.

Menurutnya, kejujuran merupakan sifat yang harus dimiliki dan dijaga oleh setiap Muslim dalam seluruh aspek kehidupan.

“Kejujuran adalah sifat mulia yang harus dimiliki setiap Muslim,” ujarnya.

TGH Saiful menjelaskan bahwa Islam memberikan perhatian besar terhadap kejujuran. Salah satu dasar yang menunjukkan pentingnya sifat ini terdapat dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 87. Dalam ayat tersebut Allah SWT berfirman bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan Allah menegaskan bahwa tidak ada perkataan yang lebih benar daripada firman-Nya.

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kebenaran dan kejujuran merupakan sifat yang melekat pada Allah SWT sehingga umat Islam dituntut untuk meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kejujuran akan menghadirkan ketenangan hati dan kepercayaan dari orang lain. Karena itu, ada beberapa bentuk kejujuran yang perlu dijaga oleh setiap Muslim.

Pertama, jujur dalam niat dan kemauan. Seorang Muslim hendaknya melakukan segala sesuatu semata-mata untuk mengharap ridha Allah SWT, bukan karena ingin dipuji atau memperoleh keuntungan duniawi. Ia menegaskan bahwa setiap perbuatan perlu dipertimbangkan manfaat dan kebenarannya. Sesuatu yang benar belum tentu membawa manfaat, begitu pula sesuatu yang dianggap bermanfaat belum tentu benar. Karena itu, kebenaran dan kemanfaatan harus berjalan beriringan.

Kedua, jujur dalam bertutur kata. TGH Saiful mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Al-Hakim, di mana Rasulullah SAW bersabda, “Jaminlah untukku enam perkara dari diri kalian, maka aku akan menjamin surga bagi kalian.” Salah satu perkara yang disebutkan adalah berkata jujur ketika berbicara. Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga lisan dari dusta merupakan jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.

Ketiga, jujur ketika berjanji, bahkan kepada anak kecil sekalipun. Ia mengingatkan hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim tentang tiga tanda orang munafik, yaitu apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.

Selain itu, TGH Saiful juga menyinggung keteladanan Nabi Ismail AS yang disebut dalam Al-Qur'an Surah Maryam ayat 54. Dalam ayat tersebut, Nabi Ismail digambarkan sebagai sosok yang benar janjinya serta seorang rasul dan nabi. Sifat ini menjadi contoh bagi umat Islam untuk selalu menepati janji dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat, jujur dalam berinteraksi dan bermuamalah dengan orang lain. Menurutnya, kejujuran dalam transaksi dan hubungan sosial akan menciptakan rasa aman dan nyaman di tengah masyarakat. Bentuknya antara lain tidak mengurangi timbangan saat menjual, tidak berbuat curang saat membeli, tidak sombong, tidak riya, serta tidak tamak dalam mencari keuntungan.

Kelima, jujur dalam penampilan dan kenyataan. TGH Saiful mengingatkan agar umat Islam tidak memakai “topeng kepalsuan” atau menampilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Ia mengutip hadis riwayat Imam Muslim yang menyebutkan bahwa orang yang berpura-pura memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak dimiliki diibaratkan seperti orang yang mengenakan dua pakaian kedustaan. Hadis tersebut mengajarkan pentingnya bersikap apa adanya dan tidak mencari pengakuan melalui kebohongan.

“Kejujuran tidak hanya mendatangkan ketenangan batin dan kepercayaan dari sesama manusia, tetapi juga menjadi salah satu jalan untuk meraih ridha Allah SWT,” tutup TGH Saiful.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....