El Nino Mengintai NTB: BPBD dan BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla

  • 26 Mei 2026 19:34 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Pemerintah NTB siaga hadapi El Nino! Simak peringatan BPBD dan BMKG terkait ancaman Karhutla serta imbauan penting bagi masyarakat.

RRI.CO.ID, MATARAM – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kini masuk dalam status siaga menghadapi fenomena El Nino. Dalam dialog "Kentongan" di RRI Mataram, para pemangku kepentingan memperingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini meningkatkan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) secara signifikan di berbagai titik rawan.

Hadir sebagai narasumber, Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Catur Juniarwan, menjelaskan bahwa El Nino menyebabkan curah hujan berkurang drastis, yang berujung pada kekeringan panjang.

"Kondisi kering ini membuat serasah atau daun kering di lantai hutan menjadi sangat mudah terbakar. Sedikit saja ada pemicu, api akan cepat merambat," ujar Catur dalam diskusi tersebut.

Faktor Manusia Jadi Pemicu Utama

Senada dengan hal tersebut, Plt. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, H. Sahdan, menekankan bahwa meski cuaca mendukung terjadinya kebakaran, faktor manusia tetap menjadi penyebab dominan. Ia menyoroti kebiasaan masyarakat yang masih sering membuka lahan dengan cara dibakar.

"Hampir 90 persen kejadian Karhutla disebabkan oleh aktivitas manusia, baik disengaja untuk pembukaan lahan maupun kelalaian seperti membuang puntung rokok," tegas Sahdan. Ia menambahkan bahwa BPBD telah menyiagakan personel dan peralatan di kabupaten/kota yang memiliki riwayat titik panas tinggi.

Strategi Mitigasi dan Kolaborasi

Dalam talkshow tersebut, terungkap bahwa pemerintah daerah tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi lebih kepada deteksi dini. Penggunaan aplikasi pemantau hotspot menjadi senjata utama untuk memetakan wilayah rawan.

"Kami meminta masyarakat menjadi mata dan telinga kami. Jika melihat asap sekecil apa pun di lereng gunung atau hutan, segera lapor ke Satgas atau BPBD setempat agar tidak menjadi besar," imbau Sahdan kepada para pendengar.

Selain dampak lingkungan, para narasumber juga mengingatkan ancaman kesehatan akibat kabut asap serta kerugian ekonomi jika sektor pariwisata terganggu. Dengan puncak kekeringan yang diprediksi terjadi dalam beberapa bulan ke depan, kolaborasi antara pemerintah dan kesadaran warga menjadi kunci utama agar NTB terhindar dari bencana Karhutla.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....