Digitalisasi i-Pubers Permudah Penyaluran Pupuk Subsidi di Lombok Barat

  • 14 Mei 2026 14:52 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Sistem digitalisasi penyaluran pupuk bersubsidi melalui aplikasi i-Pubers milik PT Pupuk Indonesia (Persero) dinilai membawa dampak positif bagi petani maupun kios penyalur pupuk di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Sistem berbasis digital tersebut membuat proses penebusan pupuk menjadi lebih cepat, transparan, sekaligus menjamin ketersediaan stok pupuk di tingkat kios.

Pemilik kios pupuk subsidi UD Arif Tani di Dusun Gegutu, Desa Kekeri, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, H Sabri M Amin, Kamis 14 Mei 2026, mengatakan sistem penebusan pupuk saat ini jauh lebih baik dibandingkan pola manual yang digunakan sebelumnya.

“Kalau sekarang sistemnya lebih canggih karena sudah menggunakan aplikasi i-Pubers yang terintegrasi langsung dengan penyaluran pupuk bersubsidi. Semua data petani sudah tercantum di sana, mulai dari nama petani, luas lahan garapan sampai kuota pupuk yang diterima,” ujarnya.

Menurut Sabri, sebelum sistem digital diterapkan, proses penebusan pupuk kerap memunculkan kesalahpahaman antara petani dan kios penyalur. Tidak sedikit petani yang memprotes jumlah pupuk yang diterima karena mengira jatahnya dikurangi oleh kios.

“Dulu sering ada petani protes karena merasa pupuk yang diterima sedikit. Mereka kadang mengira kios yang mengurangi. Sekarang kami tinggal tunjukkan datanya di aplikasi, semuanya sudah tercatat sehingga lebih transparan,” katanya.

Ia menjelaskan seluruh data penerima pupuk kini tersimpan di sistem pusat sehingga kios tidak dapat lagi mengubah data penerima maupun luas lahan garapan petani. Sistem terbaru juga telah menggunakan pemetaan lahan berbasis poligon untuk meminimalkan manipulasi data.

“Kalau dulu ada petani yang luas lahannya 50 are tapi mengaku 75 are. Sekarang tidak bisa lagi karena semuanya sudah terdata dengan rapi,” jelas mantan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi NTB tersebut.

Sabri mengatakan respons petani terhadap sistem baru ini sangat positif. Selain proses penebusan lebih cepat, petani kini hanya perlu membawa kartu tanda penduduk (KTP) untuk menebus pupuk subsidi.

“Sekarang petani cukup datang bawa KTP, kami cocokkan datanya di aplikasi. Kalau namanya terdaftar dan kuotanya ada, langsung bisa ditebus,” katanya.

Menurutnya, digitalisasi penyaluran pupuk juga memangkas beban administrasi di tingkat kios. Jika sebelumnya petani harus membawa surat dari kelompok tani beserta sejumlah persyaratan administrasi lainnya, kini proses penebusan menjadi jauh lebih praktis.

“Administrasinya jauh lebih simpel. Dulu banyak berkas yang harus dibawa, sekarang lebih praktis,” ujarnya.

Selain kemudahan penebusan, Sabri memastikan stok pupuk di kios tetap terjaga. Kios penyalur diwajibkan memiliki stok minimal untuk kebutuhan tujuh hari ke depan guna mengantisipasi perbedaan jadwal tanam petani di lapangan.

Ia menjelaskan kebutuhan pupuk petani bisa datang sewaktu-waktu karena pola tanam yang tidak serempak. Karena itu, kios harus selalu siap melayani agar petani tidak mengalami keterlambatan pemupukan yang dapat menurunkan produktivitas pertanian.

Distribusi pupuk dari distributor ke kios juga disebut berjalan lancar. Menurut Sabri, pupuk yang dipesan biasanya tiba dalam waktu satu hingga dua hari.

“Distributor kami dari Puskud NTB. Kalau pesan hari ini, biasanya satu atau dua hari sudah datang. Distribusi dari distributor ke kios juga ndak ada masalah. Begitupun distribusi dari kios hingga ke petani,” katanya.

Ia menilai peningkatan alokasi pupuk subsidi belakangan ini turut berdampak terhadap meningkatnya produktivitas pertanian di wilayahnya.

“Alhamdulillah sekarang produktivitas pertanian juga lebih baik karena kebutuhan pupuk petani lebih terpenuhi,” ujarnya.

Sabri juga memastikan harga pupuk subsidi di tingkat kios tetap mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Tambahan biaya hanya dikenakan apabila petani meminta pupuk diantar ke lahan.

“Kalau harga di kios tetap sesuai HET. Tidak ada tambahan biaya lain. Kecuali kalau petani yang datang ambil pupuknya pakai ojeg, tambahan biayanya hanya diongkosnya,” tegasnya.

Hal senada disampaikan petani Kelompok Tani Kekeri Timur, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Edi Suryadi. Petani yang menggarap lahan sekitar 92 are itu mengaku sistem penebusan pupuk saat ini jauh lebih mudah dibanding sebelumnya.

“Sistem sekarang sangat mempermudah petani. Stok pupuk selalu tersedia, jadi kami merasa lebih tenang,” katanya.

Edi mengaku selama menggunakan sistem i-Pubers dirinya belum pernah mengalami kendala saat menebus pupuk subsidi. “Belum ada kendala sejauh ini,” ujarnya.

Menurutnya, kelancaran distribusi pupuk sangat membantu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan biaya produksi petani.

“Hasil pertanian jadi lebih baik dan biaya produksi juga lebih rendah dibanding dulu,” katanya.

Dalam satu musim tanam, Edi mendapatkan alokasi pupuk subsidi sebanyak 250 kilogram pupuk urea dan 250 kilogram pupuk NPK. Seluruh kebutuhan pupuk tersebut, kata dia, selalu tersedia di kios penyalur.

“Kalau datang ke kios, pupuk selalu ada. Saya tinggal bawa KTP lalu langsung ambil pupuk,” ujarnya.

Dengan sistem penebusan yang semakin sederhana, stok pupuk yang terjaga, dan harga sesuai ketentuan pemerintah, petani di Lombok Barat kini mengaku lebih tenang menjalani musim tanam tanpa kekhawatiran kelangkaan pupuk seperti yang kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....