Dewasa Rohani Butuh Proses dan Kerendahan Hati

  • 11 Mei 2026 12:12 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram : Dewasa rohani dalam iman Kristen bukan sekadar soal bertambahnya usia atau lamanya seseorang memeluk agama, melainkan proses pembentukan karakter dan pengenalan yang semakin mendalam akan Tuhan. Hal tersebut disampaikan oleh Willhelmince Supriyeni Patty dalam rekaman Mimbar Agama Kristen, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, secara umum dewasa melambangkan organisme yang telah matang, termasuk manusia yang tidak lagi anak-anak dan telah menjadi pria atau wanita. Dalam ilmu psikologi, masa dewasa merupakan periode perkembangan yang dimulai pada akhir usia belasan atau awal dua puluhan hingga sekitar usia tiga puluhan.

“Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, perkembangan karier, memilih pasangan hidup, membangun keluarga, hingga mengasuh anak,” ujarnya.

Menurutnya, dalam kehidupan rohani Kristen, kedewasaan tidak diukur dari umur, tetapi dari perubahan hidup yang semakin serupa dengan kehendak Tuhan.

Willhelmince mengatakan, salah satu cara menjadi dewasa secara rohani ialah dengan memperhatikan kehidupan sendiri secara benar. Ia mengingatkan banyak orang lebih sibuk melihat kekurangan orang lain dibanding memperbaiki diri sendiri.

Ia mengutip Matius 7:3 yang mengingatkan agar manusia tidak menjadi munafik dengan hanya melihat “selumbar di mata saudara” tetapi tidak menyadari “balok di mata sendiri”.

“Alkitab mengajarkan kita untuk memperhatikan hidup dengan teliti dan berhati-hati karena hari-hari ini adalah jahat,” katanya.

Ia menambahkan, hal-hal yang perlu dijaga meliputi hati, pikiran, tutur kata, dan perbuatan. Menurutnya, hati harus dijaga dengan kewaspadaan, pikiran dipenuhi hal-hal yang benar dan mulia, tutur kata dijauhkan dari perkataan kotor, serta perbuatan dijaga dari hawa nafsu dan tindakan yang tidak benar.

Selain itu, kedewasaan rohani juga harus dibentuk melalui kerinduan untuk terus belajar dan diubahkan. Ia menjelaskan bahwa kedewasaan bukan sesuatu yang terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang kehidupan.

“Janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,” ujarnya mengutip Efesus 5:15.

Ia menjelaskan, orang bebal adalah mereka yang tidak mau berubah dan menolak kebenaran. Sementara orang arif adalah pribadi yang bijaksana, memiliki hikmat, serta mampu berpikir, berkata, dan bertindak sesuai kehendak Allah.

Menurutnya, ciri orang arif antara lain memiliki hati yang terus belajar firman Tuhan, hidup takut akan Tuhan, mampu mengendalikan hawa nafsu, melakukan yang benar, serta hidup penuh Roh Kudus.

Willhelmince juga menekankan bahwa proses pembentukan menjadi pribadi arif sering kali tidak mudah dan dapat terasa menyakitkan. Namun, teguran firman Tuhan merupakan bentuk kasih Tuhan kepada umat-Nya.

“Firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran,” katanya mengutip 2 Timotius 3:16.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan pentingnya hidup dalam kerendahan hati sebagai tanda kedewasaan rohani. Menurutnya, orang yang dewasa dalam Tuhan tidak hidup dalam kesombongan, tetapi mampu menghormati dan menghargai sesama.

Ia mengutip Amsal 18:12 yang menyatakan bahwa kerendahan hati mendahului kehormatan. Sikap rendah hati ditunjukkan dengan mau belajar, mengucap syukur, menerima kekurangan orang lain, serta hidup penuh kasih.

“Kerendahan hati adalah jalan menuju kehormatan. Seorang yang dewasa rohani akan memilih merendahkan diri agar kuasa Kristus semakin nyata di dalam hidupnya,” ucapnya.

Di akhir renungannya, Willhelmince mengajak umat Kristen untuk terus berusaha menjadi pelaku firman melalui perjuangan yang sungguh-sungguh dan hati yang rela dibentuk Tuhan.

“Kedewasaan rohani bukan destinasi instan, tetapi perjalanan panjang yang membutuhkan usaha dan ketekunan. Roh Kudus akan memampukan kita hidup seturut kehendak-Nya. Tuhan Yesus memberkati,” katanya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....