BMKG NTB: El Nino 2026 Pangkas Hujan 30 Persen, Waspada Kekeringan!

  • 09 Apr 2026 08:16 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Dampak El Nino 2026
  • Curah hujan anjlok 30%
  • Waspada kekeringan

RRI.CO.ID, Mataram - Masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) diminta untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra menghadapi musim kemarau tahun ini. Fenomena El Niño diprediksi akan memperpanjang durasi musim kering di wilayah NTB dengan intensitas yang lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Tim Data dan Analisis BMKG NTB, Bastian Adriano, S.St, M.Sc, mengungkapkan bahwa berdasarkan pemodelan cuaca terbaru, dampak El Niño tahun 2026 akan memicu penurunan curah hujan yang sangat signifikan.

"Kita menghadapi defisit curah hujan hingga 30 persen dari rata-rata normal musim kemarau. Ini adalah angka yang cukup mengkhawatirkan karena akan berdampak langsung pada ketersediaan air bersih dan sektor pertanian kita," ujar Bastian dalam Opini Publik dan Klarifikasi, Kamis, 9 April 2026.

Perluasan Zona Merah: Wilayah Subur Mulai Terancam

Hal yang paling mengejutkan dari analisis BMKG tahun ini adalah potensi kekeringan di wilayah-wilayah yang secara historis dianggap "aman" atau memiliki cadangan air melimpah. Bastian menekankan bahwa pola El Niño kali ini dapat menggeser zona kerawanan hingga ke wilayah yang sebelumnya jarang mengalami krisis air.

Bastian menjelaskan bahwa hal ini tidak hanya dipicu oleh faktor atmosfer di Pasifik, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi di daratan.

"Kondisi vegetasi di atas tanah memegang peran kunci. Wilayah dengan tutupan hijau yang minim akan lebih cepat kehilangan kelembapan tanahnya saat hujan berkurang. Jika vegetasi rusak, penurunan hujan 30 persen saja sudah cukup untuk menguras cadangan air tanah secara ekstrem," tambahnya.

Tiga Langkah Mitigasi: Bijak, Panen, dan Jaga

Menutup keterangannya, Bastian Adriano menyampaikan imbauan mendesak bagi seluruh lapisan masyarakat NTB untuk melakukan langkah antisipasi sebelum puncak kemarau tiba:

  1. Bijak Menggunakan Air: Mulailah memprioritaskan penggunaan air untuk kebutuhan pokok dan menghindari pemborosan sekecil apa pun.
  2. Panen Air Hujan: Selagi sisa-sisa hujan masih turun di masa peralihan ini, masyarakat diminta memaksimalkan penampungan air, baik melalui tandon, embung, maupun lubang biopori.
  3. Jaga Vegetasi: Melindungi tanaman dan pohon di sekitar lingkungan rumah dan kawasan tangkapan air adalah investasi jangka panjang agar tanah tetap mampu mengikat air di tengah cuaca panas ekstrem.

"Alam sedang mengirimkan sinyal melalui data-data ini. Sekarang pilihannya ada di tangan kita: bersiap dari sekarang atau menghadapi krisis saat keran air benar-benar mulai mengering," pungkas Bastian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....