El Nino Diperkirakan Terjadi Pertengahan April Ini

  • 08 Apr 2026 08:02 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Fenomena El Nino dan La Nina kerap menjadi perbincangan masyarakat, terutama saat cuaca mulai berubah drastis. Namun, masih banyak warga yang bertanya, apa sebenarnya El Nino dan La Nina, serta kapan dan di mana fenomena itu terjadi.

Hal itu dibahas dalam Dialog Kentongan Pro 1 RRI Mataram bertajuk Hasil Riset Pertanian Antisipasi Dampak Kekeringan El Nino, Selasa 7 April 2026.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Mataram, I Nyoman Swandiasa, menjelaskan bahwa El Nino dan La Nina merupakan dua fenomena iklim yang saling berkebalikan.

April ini kita diperkirakan akan mengalami El Nino. El Nino kebalikan dari La Nina. Kalau La Nina kemarau basah, nah kalau El Nino kemarau kering,” jelas Nyoman dalam dialog tersebut.

Secara ilmiah, La Nina adalah fenomena ketika Suhu Muka Laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normal. Kondisi ini mengurangi pertumbuhan awan di kawasan Pasifik tengah, namun justru dapat meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia.

Sebaliknya, El Nino terjadi ketika Suhu Muka Laut di Samudra Pasifik bagian tengah memanas di atas kondisi normal. Pemanasan ini meningkatkan pertumbuhan awan di Pasifik tengah, tetapi mengurangi curah hujan di Indonesia. Dampaknya, wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering.

Agar mudah dipahami, fenomena ini kerap dianalogikan secara sederhana. La Nina identik dengan kondisi “dingin”, sedangkan El Nino identik dengan kondisi “panas”.

Dikutip dari Brainacademy.id, Fenomena El Nino dan La Nina tidak terjadi setiap tahun. Keduanya biasanya muncul setiap 2 hingga 7 tahun sekali dan tidak berlangsung dalam pola yang teratur. Dalam banyak kasus, El Nino lebih sering terjadi dibanding La Nina.

Umumnya, kedua fenomena ini berlangsung selama 9 hingga 12 bulan, meski pada kondisi tertentu bisa terjadi lebih lama. Puncak El Nino sendiri biasanya terjadi sekitar bulan Desember.

Saat El Nino terjadi, angin pasat melemah, sehingga air hangat terdorong dari wilayah barat menuju timur Samudra Pasifik. Selain memengaruhi cuaca, El Nino dan La Nina juga dapat berdampak luas terhadap kehidupan manusia. Fenomena ini dapat memicu kekeringan, kebakaran hutan, kerusakan ekosistem, hingga mengganggu stabilitas ekonomi, khususnya di sektor pertanian.

Meski demikian, Nyoman menilai masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Menurutnya, fenomena El Nino bukan hal baru bagi Indonesia dan sejauh ini masih dapat diantisipasi.

El Nino adalah kejadian yang sering kita alami, dan selama ini kita sudah berhasil melampaunya tanpa akibat yang parah,” ujar Swandiasa.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama dalam penggunaan air, pengelolaan pertanian, dan upaya pencegahan kekeringan agar dampak El Nino dapat diminimalkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....