Istiqamah Pasca Ramadhan Jadi Tanda Amal Diterima
- 06 Apr 2026 13:31 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Memasuki pekan ketiga bulan Syawal, umat Islam diajak untuk merenungkan kembali makna ibadah pasca Ramadan. Hal tersebut disampaikan H. Syamsul Hakim, S.Sos.I., M.Sy. dalam program Renungan Senja, Senin sore 6 April 2026.
Dalam tausiahnya, ia menyampaikan bahwa Ramadan memang telah berlalu, bahkan sebagian umat Muslim juga telah menuntaskan puasa sunnah Syawal. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana menjaga semangat ibadah agar tetap hidup setelah bulan suci berakhir.
“Kita memasuki minggu ketiga bulan Syawal. Ramadan sudah berlalu. Mungkin sebagian dari kita sudah menyelesaikan puasa sunnah Syawal,” ujarnya.
Menurutnya, istiqamah atau konsisten dalam menjalankan amal saleh setelah Ramadan menjadi salah satu tanda bahwa ibadah yang telah dilakukan diterima oleh Allah SWT. Ramadan, kata dia, bukanlah akhir dari perjalanan ibadah, melainkan awal untuk terus menjaga kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan, Allah SWT mencintai amal yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun jumlahnya sedikit. Karena itu, nilai utama dari ibadah bukan semata pada banyaknya amalan, tetapi pada konsistensi dalam menjaganya.
Dalam renungannya, Syamsul Hakim juga menyinggung kandungan Surat Ali Imran ayat 135 yang menggambarkan akhlak mulia yang dicintai Allah SWT. Ayat tersebut menjadi pengingat agar setiap Muslim senantiasa menjaga ketakwaan, memohon ampun atas kesalahan, serta tidak terus-menerus berada dalam perbuatan dosa.
Ia mengajak umat Islam untuk meneguhkan hati dan langkah dalam ketakwaan kepada Allah SWT. Menurutnya, takwa bukan hanya ucapan di lisan, tetapi harus menjadi cahaya dalam hati yang membimbing setiap langkah untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
“Semoga dengan ketakwaan itu, hidup kita dipenuhi keberkahan, hati kita dilapangkan, dan kita termasuk hamba-hamba yang beruntung di dunia sampai akhir zaman,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa suasana Ramadan yang penuh dorongan ibadah sering kali membuat umat lebih semangat menjalankan shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, hingga menjaga lisan. Namun setelah Ramadan berlalu, tantangan justru menjadi lebih besar karena suasana religius tersebut tidak lagi sekuat sebelumnya.
Di situlah, lanjutnya, letak ujian yang sebenarnya. Apakah seseorang masih menjaga shalat berjamaah, tetap membaca Al-Qur’an setiap hari, menjaga ucapan dari ghibah, dan ringan tangan dalam bersedekah.
Jika kebiasaan baik itu tetap bertahan setelah Ramadan, maka hal tersebut menjadi isyarat kebaikan. Sebaliknya, jika seseorang kembali pada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai Ramadan, maka itu menjadi bahan muhasabah atau introspeksi diri.
Syamsul Hakim juga mengutip pesan para ulama bahwa tanda diterimanya suatu amal adalah ketika amal tersebut diiringi dengan amal saleh lainnya. Sebaliknya, jika setelah ibadah seseorang justru kembali pada kemaksiatan, maka hal itu patut menjadi perhatian dan evaluasi.
Menurutnya, istiqamah bukan berarti harus beribadah sebanyak saat Ramadan, melainkan mampu menjaga ketaatan secara konsisten sesuai kemampuan.
“Allah SWT menyukai amal yang dilakukan terus-menerus walaupun kecil. Itulah bukti keikhlasan kita dalam beribadah,” ujarnya.
Ia pun menutup renungan dengan mengingatkan bahwa Allah SWT menjanjikan ketenangan bagi orang-orang yang beriman dan istiqamah. Mereka adalah hamba-hamba yang tidak perlu takut dan tidak pula bersedih hati, karena hidupnya senantiasa berada dalam lindungan dan rahmat Allah SWT.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....