Kue Putri Salju, Warisan Eropa di Meja Lebaran

  • 06 Apr 2026 10:41 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID - Bulan Syawal identik dengan sisa jajanan Lebaran yang masih tersimpan rapi di dalam toples. Tak sedikit pula yang kemudian membawanya ke kantor untuk dinikmati bersama rekan kerja di sela aktivitas.

Hal itu juga dilakukan Nani, yang membawa kue putri salju ke tempat kerjanya pada Senin 6 April 2026. Menurutnya, membawa kue Lebaran ke kantor menjadi cara sederhana untuk menghabiskan camilan yang tersisa di rumah.

“Karena jajan ini yang masih ada, dan kita sudah bosan dengan jajanan manis, jadi kalau dibawa ke kantor iseng sambil kerja pasti habis,” ujarnya.

Kue putri salju sendiri merupakan salah satu kue kering yang hampir selalu hadir saat Lebaran. Bentuknya khas menyerupai bulan sabit, dengan taburan gula halus yang menutupi seluruh permukaannya. Bersama nastar dan kastengel, kue ini telah menjadi bagian dari suguhan wajib di banyak rumah saat hari raya.

Namun siapa sangka, dari berbagai sumber, putri salju ternyata bukan kue asli Indonesia.

Secara historis, kue ini dipercaya berasal dari Austria dan Jerman. Di Eropa, versi aslinya dikenal dengan nama Vanillekipferl, yakni kue kering berbahan tepung, mentega, dan kacang almond atau hazelnut, yang juga berbentuk bulan sabit dan ditaburi gula vanila.

Di negara asalnya, Vanillekipferl identik dengan perayaan Natal. Kue ini biasa disajikan sebagai bagian dari tradisi musim dingin dan perayaan akhir tahun.

Masuknya kue ini ke Indonesia diperkirakan terjadi pada masa kolonial, saat bangsa Belanda membawa berbagai resep kue Eropa ke Nusantara. Pada awal kemunculannya, kue seperti putri salju lebih banyak dinikmati kalangan bangsawan dan keluarga Indo-Eropa.

Seiring waktu, resep tersebut mulai dikenal lebih luas dan beradaptasi dengan bahan-bahan lokal. Jika versi Eropa menggunakan almond atau hazelnut, maka versi Indonesia lebih sering memakai kacang tanah, bahkan ada pula yang dibuat tanpa kacang sama sekali.

Tak hanya itu, beberapa resep modern juga menambahkan keju untuk menghadirkan rasa gurih yang lebih kuat. Dari segi tekstur, putri salju versi Indonesia cenderung lebih padat, namun tetap lembut dan lumer saat digigit.

Nama “putri salju” sendiri diyakini muncul dari tampilannya yang serba putih akibat taburan gula halus di seluruh permukaan kue. Penampilannya yang menyerupai salju, dipadukan dengan sensasi lembut saat disantap, membuat masyarakat Indonesia memberi nama yang puitis dan mudah diingat.

Menariknya, bila di Eropa Vanillekipferl lekat dengan Natal, maka di Indonesia putri salju justru sangat identik dengan Lebaran. Kue ini menjadi salah satu camilan favorit yang kerap menemani momen silaturahmi bersama keluarga dan tamu. Hingga bulan syawal ini pun, Putri salju masih bisa idtemui di beberapa meja tamu masyarakat Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....