Ajang Kelicung, Flora Identitas Nusa Tenggara Barat
- 31 Mar 2026 09:26 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Nusa Tenggara Barat memiliki kekayaan flora khas yang tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga historis. Salah satunya adalah pohon Ajang Kelicung (Diospyros macrophylla), yang secara resmi dikenal sebagai flora identitas daerah NTB dan telah lama menjadi bagian dari kekayaan hayati Indonesia.
Merujuk pada publikasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui platform kehutanan, Ajang Kelicung merupakan tanaman berkayu yang dapat tumbuh hingga 40–46 meter dengan diameter batang mencapai 60 sentimeter. Ciri khasnya terletak pada batang lurus tanpa cabang di bagian bawah, kulit berwarna cokelat kemerahan, serta daun tunggal berbentuk lonjong. Selain itu, bunganya berwarna putih kekuningan dan beraroma harum, sedangkan buahnya berbentuk bulat dengan warna kemerahan hingga jingga.
Lebih lanjut, pohon ini umumnya tumbuh di hutan dataran rendah hingga ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, terutama di kawasan Lombok dan Sumbawa. Habitat alaminya berada di area hutan primer, tepi sungai, serta tanah dengan struktur beragam seperti liat hingga berbatu. Kondisi ini menunjukkan kemampuan adaptasi Ajang Kelicung terhadap lingkungan tropis kering khas NTB.
Namun demikian, nilai ekonomi kayu Ajang Kelicung yang tinggi justru menjadi ancaman serius bagi kelestariannya. Kayunya dikenal kuat, halus, dan memiliki serat indah sehingga banyak dimanfaatkan untuk bahan bangunan, kerajinan, hingga komponen kapal. Eksploitasi berlebihan, ditambah dengan pertumbuhan tanaman yang relatif lambat, menyebabkan populasinya di alam terus menurun dan masuk kategori rentan (vulnerable).
Oleh karena itu, pemerintah melalui berbagai program kehutanan mendorong upaya konservasi, baik secara in-situ maupun ex-situ. Pelestarian ini menjadi penting, tidak hanya untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam, tetapi juga mempertahankan identitas ekologis NTB.
Dengan demikian, Ajang Kelicung bukan sekadar flora khas, melainkan simbol warisan alam yang membutuhkan perlindungan serius dan berkelanjutan. (RRI/Irene Dyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....