Fenomena “Post Holiday Syndrome” usai Libur Panjang
- 30 Mar 2026 11:06 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Usai menjalani libur panjang, terutama setelah momentum mudik, banyak karyawan maupun mahasiswa menghadapi kondisi yang kerap disebut sebagai post holiday syndrome. Fenomena ini ditandai dengan menurunnya semangat kerja, rasa lelah berkepanjangan, hingga kesulitan berkonsentrasi saat kembali ke rutinitas.
Mengacu pada berbagai publikasi dari instansi pemerintah seperti Kementerian Kesehatan, kondisi ini bukanlah gangguan medis serius, melainkan respons psikologis akibat perubahan ritme aktivitas yang drastis. Selama liburan, individu cenderung menikmati waktu santai, berkumpul bersama keluarga, serta terbebas dari tekanan pekerjaan atau akademik. Namun, ketika kembali ke rutinitas, tubuh dan pikiran memerlukan waktu untuk beradaptasi kembali.
Selain itu, Kementerian Ketenagakerjaan juga menyoroti bahwa transisi pascalibur sering kali memicu penurunan produktivitas sementara. Hal ini dipengaruhi oleh faktor emosional, seperti rasa rindu kampung halaman, serta kelelahan fisik akibat perjalanan mudik yang panjang.
Meski demikian, kondisi ini dapat diatasi dengan langkah sederhana namun efektif. Salah satunya adalah mengatur ulang pola tidur secara bertahap sebelum hari pertama bekerja atau kuliah. Di samping itu, menyusun prioritas pekerjaan ringan di awal pekan dapat membantu mengembalikan ritme kerja tanpa tekanan berlebih. Tidak kalah penting, menjaga pola makan sehat dan hidrasi yang cukup juga berperan dalam memulihkan energi tubuh.
Lebih lanjut, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mendorong masyarakat untuk mengelola penggunaan media digital secara bijak pascalibur. Paparan berlebih terhadap media sosial yang menampilkan suasana liburan kerap memperpanjang rasa enggan kembali beraktivitas. Oleh karena itu, membatasi waktu layar serta mulai kembali terhubung dengan lingkungan kerja atau kampus secara aktif dapat membantu mempercepat proses adaptasi.
Dengan demikian, post holiday syndrome sejatinya merupakan fase adaptasi yang wajar. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran untuk mengelola transisi ini secara bijak agar semangat dan produktivitas dapat kembali optimal. (RRI/Irene Dyah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....