Inflasi NTB Februari 2026 Tembus 5,37 Persen, Harga Cabai Rawit Picu Kenaikan

  • 03 Mar 2026 08:44 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat inflasi year on year (y-on-y) di Nusa Tenggara Barat pada Februari 2026 sebesar 5,37 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,49.

Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, menjelaskan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 6,40 persen dengan IHK 112,06. Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Kabupaten Sumbawa sebesar 4,88 persen dengan IHK 111,60.

“Secara umum, inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga pada sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran,” ujar Wahyudin dalam keterangan resminya, Senin 2 Maret 2026.

Ia merinci, kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 22,77 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 16,83 persen. Kenaikan juga terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,92 persen; pendidikan sebesar 2,79 persen; rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 1,73 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,92 persen; kesehatan sebesar 1,32 persen; pakaian dan alas kaki sebesar 0,66 persen; serta transportasi sebesar 0,13 persen.

Sementara itu, dua kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks, yakni kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,18 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,10 persen.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat tingkat inflasi month to month (m-to-m) Februari 2026 sebesar 0,84 persen dan inflasi year to date (y-to-d) sebesar 1,12 persen.

Wahyudin menambahkan, inflasi Februari 2026 terutama didorong oleh peningkatan harga pada kelompok bahan makanan, khususnya komoditas cabai rawit, udang basah, dan daging ayam ras.

“Tingginya harga cabai rawit disebabkan terbatasnya pasokan dari petani lokal akibat gagal panen, sementara permintaan meningkat menjelang Ramadhan,” jelasnya.

Menurutnya, menjelang bulan puasa, konsumsi masyarakat cenderung meningkat sehingga mendorong kenaikan harga bahan pangan di pasaran. BPS NTB pun mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi daerah guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....