Muhasabah Ramadhan Kisah Kesabaran Sahabat Rasul
- 04 Feb 2026 11:41 WIB
- Mataram
RRI.co.id, Mataram : Muhasabah Ramadhan kembali hadir menemani pendengar selama bulan Ramadhan, rekaman pada Rabu (04/02/2026) mengangkat tema “Kesabaran Sahabat Rasul dalam Menjalankan Puasa.” Tema ini mengajak umat Islam merenungi makna puasa yang sesungguhnya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran hati dan pengendalian diri.
Dalam muhasabah tersebut disampaikan bahwa beratnya puasa sering kali bukan terletak pada rasa lapar, melainkan pada kesabaran yang diuji. Untuk itu, kisah para sahabat Rasul menjadi teladan berharga dalam menjalani ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan kesederhanaan.
Salah satu kisah yang diangkat adalah tentang Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, sahabat Rasulullah yang dikenal sebagai saudagar kaya, namun sangat sederhana dalam berpuasa. Diceritakan, suatu ketika saat waktu berbuka tiba dan hidangan tersaji di hadapannya, Abdurrahman bin Auf justru menangis. Ia teringat Rasulullah dan para sahabat yang telah wafat lebih dahulu dalam keadaan serba kekurangan.
“Mush‘ab bin ‘Umair gugur dalam keadaan lebih mulia dariku, namun kafannya saja tak cukup menutupi tubuhnya,” ujar Abdurrahman bin Auf kala itu. Sejak saat itu, makanan yang ada di hadapannya tak lagi terasa istimewa, karena hatinya tengah belajar bersabar dan tidak larut dalam kenikmatan dunia.
Muhasabah juga mengisahkan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, seorang pemimpin besar yang tetap menjalani puasa dengan penuh kesederhanaan. Dalam sebuah riwayat, Umar hanya berbuka dengan roti kasar dan air. Ketika ditawari makanan yang lebih layak, ia menolak seraya berkata, “Jika aku menikmati yang terbaik hari ini, lalu apa yang tersisa untuk kaum muslimin yang lapar?”
Puasa bagi Umar bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari hidup berlebihan agar ia dapat merasakan penderitaan rakyatnya.
Selain itu, kisah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu turut menjadi bagian dari muhasabah. Ali dikenal memilih berbuka dengan makanan yang sangat sederhana. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, “Aku ingin jiwaku ringan ketika menghadap Allah.”
Melalui kisah-kisah tersebut, disampaikan bahwa kesabaran para sahabat bukanlah kesabaran yang dipamerkan, melainkan kesabaran yang lahir dari keyakinan bahwa puasa adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan ajang memuaskan diri setelah menahan lapar seharian.
Muhasabah Ramadhan ini mengingatkan bahwa di tengah kemudahan yang dimiliki umat Islam saat ini, mulai dari makanan yang melimpah hingga kenyamanan saat berbuka, puasa sejatinya mengajarkan kesabaran hati dan keteguhan iman.
Diharapkan, muhasabah ini mampu menumbuhkan kesadaran bahwa puasa bukan tentang seberapa kuat tubuh menahan lapar, melainkan seberapa sabar hati menjaga iman, serta meneladani keteguhan para sahabat Rasulullah dalam setiap keadaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....