FKUB NTB Gagas Konsep Harmoni Tourism Pariwisata NTB

  • 28 Jan 2026 19:58 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Dari Empat Program yang digagas FKUB NTB dalam meningkatkan kunjungan wisawan adalah Moderasi, mediasi dan Mitigasi serta   Harmoni Tourism. Harmoni Tourism merupakan salah satu Program Unggulan dari Farum Kerukunan Ummat Beragama (FKUB) di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pada acara Beranda Astacita di Pro1 RRI Mataram, Ketua FKUB Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dr. Buya  Muhammad Subki Sasaki, Selasa 27 Januari 2026 menegaskan, program Harmoni Tourism menjadi bagian dari strategi Pengembangan Pariwisata di NTB. Harmoni menurut Buya adalah rukun dan damai, Aman dan  Nyaman.

“Konsep ini digagas oleh FKUB sejak jamannya Gubernur  NTB Tgh. HM. Zainul Majdi, dengan nama   program Wisata Syariah  Wisata Halal," ucapnya.

FKUB mencoba menawarkan satu konsep pemikiran kepada  Dinas Pariwisata NTB sebelumnya, konsep dari Harmoni ini adalah siapa memberikan  rasa nyaman, rasa Aman bagi para wisatawan .

“ Satu pemikiran  pandangan yaitu Harmoni Tourism.  Dimana kesadaran penuh dari Masyarakat dan pemerintah serta peggiat wisata bahwa harmoni itu kunci utama untuk meningkatkan jumlah wisatawan yg berkunjung,” kata Buya.

Dengan demikian Harmoni itu tercipta bahwa siapa yang datang ke NTB dipastikan akan merasa aman dan nyaman. Konsep seperti inilah dikembangkan di NTB ini , bahwa yang meyapa mereka itu adalah alam NTB.

“Artinya  apa yang dilihat dan dirasakan  oleh para wisatawan yang datang, seperti apa yang dimakan. apa yang dirasakan, apa yang dikerjakan, apa yang dipegang,  dimana dia tinggal, tentu dipastikan mereka merasakan harmoni dan mereka  merasa bagian dari orang NTB,” katanya.

Sementara itu Konsep Harmoni tourism yang telah dilaksanakan Pemerintah NTB  selama ini yang sudah berjalan adalah renovasi bangunan, jalan. Kemudian yang masuk Kepaeriwisataan adalah program renovasi tempat-tempat wisata pantainya, pelabuhan dan wisata jalannya, serta wisata tamannya. Tetapi semua itu akan menjadi hampa, apabila para wisatawan merasakan tidak mendapat suatu kehormatan, ketika yang menyapanya bukan pemilik rumah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....